Pengalaman itu berharga, selalu ada hikmah yang bisa kita petik. Pengalamanku ini tidak ada apa-apanya dibandingkan dengan sodara-sodaraku yang tertimpa musibah banjir. Ya Allah berikan mereka kesabaran yang tak terbatas Aamiin.
Kisah ini hanya secuil tapi berharga buatku karna Allah telah memilihku, semoga bisa diambil hikmahnya.
*
*
Setiap musim penghujan tiba, banjir bukan hal aneh bagiku. Pasti ngerasain walaupun nggak sampai masuk rumah hanya akses jalan desa menuju jalan raya terputus dan lapangan bola yang dekat rumahku sudah nggak bisa nampung lagi. Itu artinya air pasti mampir depan rumah (hanya di halaman)
Kalau udah seperti itu, pergi sekolah pasti pake perahu rakit dadakan yang terbuat dari bambu. Ya. Itu kejadiannya waktu SMP. Sepatu di dalam tas pergi pake sendal jepit. Nyampe warung deket sekolah numpang cuci kaki baru deh diganti.
Aktivitas berangkat sekolah berasa jadi ajang hiburan PP naik perahu😁🤭. Naik perahu adalah akses terdekat menuju jalan raya, lautan kecoklatan itu adalah tanah lapangan bola. Kalau nggak banjir biasanya berangkat sekolah lewat jalan desa agak jauh dikit.
Banjir bukan di desa aku aja, desa tetangga pun mengalami hal yang sama. Disebagian daerah yang ada di karawang bahkan Indonesia. Berita update daerah banjir pun jadi trending topik di media masa TV dan Radio. Waktu itu aku belum ngalamin ada FB atau media sosial lainya, HP aja nggak punya.
Menyaksikan berita banjir di TV, prihatin, kasihan pokonya sedih🥺 ada yang kehilangan rumahnya karena terseret derasnya air, sudah dibayangkan hanya baju yang menempel di badan yang dimiliki. Kalau sempet mungkin hanya bisa menyelamatkan yang dirasa perlu.
2007
Musim penghujan tiba lagi, aku punya prediksi sendiri pasti nanti banjir lagi, ah membayangkan serunya pergi sekolah pake perahu rakit. Waktu itu aku sudah SMK namun keseruan yang menurutku bakalan dialami lagi ternyata nggak aku rasakan. Kenapa? gak kebanjiran? Bukan. Justru banjir besar 😰🥺
Curah hujan cukup tinggi, bisa dari pagi sampe menjelang pagi lagi belum berhenti. Tiap malam orang yang ngeronda pasti setengah berteriak " ibu-ibu, bapak -bapak tong taribra teing sarena" (ibu.. ibu bapak.. bapak tidurnya jangan terlalu pulas). Waspada-waspada. Sayup-sayup mendengarnya seperti ada pesan kengerian.
Memang waktu itu sungai Citarum sudah meluap. Lapangan yang biasa menampung air saat hujan sudah mulai tinggi, tanah lapangan bola posisinya lebih rendah dari pada rumah penduduk.
Pagi tiba orang-orang di luar ko rame ya. Aku memang belum keluar tuk melihat kondisi air. Orang seisi rumah bilang "hayo beresin pakaian simpen ke tempat tinggi, buku-buku juga". Duh... kalo udah disuruh gini paling males, tahun-tahun sebelumnya juga pernah. Tapi gak masuk ko airnya. Malah cape buat beres-beres lagi ya😔
Tapi kali ini beda, aku keluar rumah tuk memastikan keadaan ternyata orang-orang sudah rame. "Citarum jebol-citarum jebol", saling sahut menyahut orang-orang. Dibenak aku hanya berpikir akan seberapa parah banjirnya kalo Citarum jebol.
Ngeri, apa seperti berita-berita di TV?. Aku kembali ke rumah. beresin pakian dan buku dengan panik aku keluarin semua pakaian seisi lemari. Pakian aku bungkus dengan kain lebar dan panjang tampa dipisah-pisahkan dulu sesuai urutan menyimpannya. Aku gemeterr, takut.
Panik dan takut membanyangkan kengerian air yang mulai masuk ke dalam rumah. Di luar rame "hayu ngungsi-ngungsi". Hah... ngungsi? Ngungsi kemana?
Semua warga diarahkan ke mesjid deket jalan raya. Aku waktu itu hanya bawa baju 1 stel tuk ganti nanti kalo sudah nyampe mesjid. Di jalan desa menuju arah mesjid warga udah rame mengungsi, sambil diguyur hujan yang belum reda.
*
*
Mataku jauh memandang tanah lapang sudah gak kuat menampung hamparan air berwarna kecoklatan. Suara-suara orang silih berganti "hati-hati", waktu itu air baru dibawah lulut cukup deras menabrak kakiku.
Sesampainya di mesjid orang sudah rame mengungsi di pelataran mesjid. Aku hanya bengong, "ya Allah apakah aku akan merasakan seperti sodaraku yang ada di TV". Duduk termanggu melihat hilir mudiknya orang-orang.
Ditengah lamunanku aku baru sadar. Kalo aku gak bawa baju lagi, nanti sekolahku gimana? Buku pelajaranku kenapa gak dibawa?
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar