Rabu, 17 April 2019

Malaikat Kecilku





Malaikat Kecilku
Oleh: Yuyun Suminah

Sebuah pernikahan pasti mengharapkan kehadiran buah hati. Seorang anak yang bisa melengkapi kebahagian kami. Allah maha tahu kenapa belum juga mengizinkanku untuk menjadi seorang ibu. Menjadi seorang wanita sempurna. Ya, karena aku menikah ketika masih berstatus mahasiswi.

Menikah disaat-saat butuh konsentrasi untuk menyusun Tugas Akhir. Tiga bulan sebelum sidang statusku bertambah menjadi “Seorang Istri”. Status sebagai wanita karierpun kulepas. Pengajuan risend diacc sebelum hari pernikahan. Memang sudah jauh-jauh hari kusampaikan kepada atasan. Alhamdulillah sekarang fokus menyelesaikan kuliah saja.

Suami jelas mengizinkan risend dari tempat kerja. Status tak hanya sebagai mahasiswi, tapi sekarang gelar istripun kusandang. Menjalani pernikahan beriringan dengan kuliah rasanya sangat sesuatu. Konsekuensi dari pilihan harus siap dihadapi. Allah maha tahu, bersyukur suami sangat mendukung untuk bisa menyelesaikan Tugas Akhirku. Terkadang status sebagai seorang istri tak sepenuhnya bisa kujalani. Seperti masak, beres-beres rumah tidak optimal dijalani. Menghabiskan waktu seharian di kampus hanya untuk mencari referensi-referensi yang menunjang penyusunan Tugas Akhir.

Penantian Buah Hati

Setiap pagi rutinitas antar jemput suami kerja menuju bis jemputan karyawan. Bekerja sebagai karyawan swasta di sebuah kawasan KIIC. Bis itulah yang membawanya ke tempat kerja. Motor bebek yang sudah menemani suami ketika merantau kini bagai kaki keduaku. Begitu juga ketika waktu jam pulang kerja kujemput dia di titik pemberhentian bis. Begitulah aktivitas tambahan setiap hari, aku selalu menyebutnya Ojek Cinta”.
***

Setelah memastikan kewajiban di rumah selesai, aku pun siap-siap berangkat kuliah dan selalu pulang menjelang sore. Kalau sudah pulang sore biasanya sekalian menunggu suami di tempat pemberhentian bis. Terkadang juga tidak bisa jemput karena di kampus masih ada keperluan lain. Pulang menjelang maghrib, suamipun harus rela naik ojeg. Menyusun Tugas Akhir itu ternyata tidak mudah, strespun menghampiri. Stres itu biasa dialami bagi mahasiswa yang akan melakukan sidang, terlebih dengan diriku. Allah maha tahu dengan aktivitas dan kesibukan yang kujalani, Allahpun menunda dulu mengamanahi seorang anak, ternyata Allah lebih tahu dari hamba-Nya.

Menjalani seorang mahasiswi yang berstatus menikah itu memang butuh kekuatan, terutama dukungan suami. Setelah menanti-nanti tanda kehamilan namun hanya berbuah kecewa dan kecewa. Aku pun abai saja ketika tanda telat haid dialami. Pikirku akan menunggu sampai telat dua bulan saja baru di tespek. Tidak merasa aneh dengan perubahan emosi yang tidak stabil, perasaannya sensitif, gampang tersinggung, nangis, kesel dll. Ditanggapi dengan biasa saja.
***

Keanehan itu dirasakan setelah magrib perutku sakit luar biasa. “Makan apa ya, sampai sakitnya seperti ini”. Kuremas-remas perut sambil mengingat-ingat makanan dan minuman apa yang sudah masuk mulutku. Ternyata tak ada yang memicu sakit perut, bisikku dalam hati. Akupun berlari menuju kamar mandi setelah dicek “ko, berdarah? Apa ini darah haid? Tidak biasanya haid seperti ini.  Shering dengan temen yang sudah pengalamanpun dilakukan.

Kesimpulannya aku baik-baik saja. Meminta suami untuk membelikan tespek ketika dicek, ternyata hasilnya positif, bukan main aku senangnya sambil memeluk suami dan tak terasa butiran beningpun jatuh. Penantian dua tahun itu cukup lama bagi kami. Kebahagian untuk keluarga suami, memberikan cucu pertama dalam keluarganya.
***

Beberapa hari saya tetep meraskan sakit di perut dan mengalami flek, setelah maghrib itulah puncaknya, merasakan nyeri hebat di bagian perut. Meminta kepada suami untuk periksa ke dokter kandungan, aku meringis kesakitan sepanjang perjalanan. Di ruang tunggu mengantri giliran diperiksa sesekali mengeluh sakit.

Genggaman tangan suami kuremas menandakan rasa sakit yang tak terkira. “Sabar ya, semua pasti baik-baik saja, dengan tatapan penuh kasih sayang, aku menunggu apa yang akan dikatakan dokter dengan kondisi seperti ini. Rasa takut dan was-was campur aduk rasanya. Apapun hasilnya harus siap menerimanya. Akhirnya giliranku  dipanggil masuk ruangan, seperti pada umumnya dokter bertanya kepada paseinnya di tanya tanya tentang keluhan yang dialami. Setelah kuceritakan semua dokterpun melakukan pemeriksaan USG.

Jantungku berdetak kencang menunggu kata apa yang akan keluar setelah dokter mendiagnosaku. Ruanganpun dibuat hening dan tegang untuk diriku. “ibu...  ini tinggal kantung rahimnya saja yang terlihat, itupun mulai mengecil, kantung rahimnya sudah tidak beraturan, ibu mengalami keguguran, sudah tidak bisa dipertahankan lagi”.  Kata-kata dokter membuat keheningan mendadak gaduh seperti sesuatu benda yang terjatuh dan pecah, hancur berantakan seperti suasana hatiku.

Sudah tidak bisa dipertahankan harus dilakukan tindakan kuretase. Ditengah kebingunganku apa itu kuretase, istilah asing yang baru kudengar. Dokterpun menjelaskan panjang lebar, entah kenapa setengah sadar aku menyimak. Selama ini aku hamil? Kenapa aku tak tahu, kenapa tak merasa aneh dengan perubahan emosiku yang tak stabil?, dalam hatiku. Diriku seperti tertampar petir disiang bolong tak berdaya dihantam dengan pertanyaan pertanyaan kenapa dan kenapa”. Kutahan air mataku untuk tidak meluap di ruangan ini. Setelah selesai semua saran dan menyelesaikan administrasi, kami memilih pulang. Suami menggenggam erat tanganku hanya sesekali menatapku.

 Seperti mengisaratkan kita pasti kuat terlebih aku. Selama perjalanan dengan mengendarai motor, tumpahlah tangisku. Sampai di rumah tangisku pecah. Suami memelukku suasana tanpa kata hanya terdengar suara tangisku.  sabar ya sayang, Allah maha tahu, Allah hanya ingin memberikan kita kesempatan untuk menikmati masa-masa berdua, Allah masih menunda rizki itu, kelak rizki itu Allah pasti berikan disaat waktu yang tepat”. Dalam dekapan tiada henti air mata ini tumpah, akupun mulai menerima ketetapan-Nya. Besok kita ke Rumah Sakit yang ada di kota, untuk menghilangkan rasa ketidak percayaannku. Allhamdulillaah kami dimudahkan dalam pembiayaan karena semua biaya ditanggung oleh perusahan tempat suami bekerja.  Aku tak menyadari kalau di dalam rahimku ada janin tapi Allah berkehendak lain memintanya kembali ketika pada usia 3 bulan. Di Rumah sakit kedua  dokterpun mengatakan yang sama seperti dokter pertama harus melakukan tindakan kuretase. Lebih yakin dan siap akhirnya tindakan kuretase ku jalani.

Kesempatan Kedua

Alhamdulillah Tugas Akhir dan sidang sudah selesaiku jalani. Senangnya wisuda sudah ditemani oleh suami, rencana ingin ditemani malaikat kecil itu belum terwujud. “Ah.. sudah bahagia bisa ditemani oleh suami”. Kini statusku hanya ibu rumah tangga, rasa jenuh menghampiri, teringat dulu aktivitasku yang sibuk, terkadang ingin masa itu terulang tapi tidak dengan mengalami keguguran. Antar jemput suami masih dijalani ternyata bisa sebagai pengusir rasa jenuhku,  antar jemput sebagai hiburan bisa tiap hari jalan-jalan, pagi dan sore.
***

Pada saat itu datanglah tawaran untuk mengajar, setelah dapat izin dari suami akhirnya kuterima ngajar TPQ (Taman Pendidikan Quran) kebetulan tidak jauh dari rumah sehungga bisa ditempuh dengan jalan kaki, walaupun tidak sesuai dengan bidangku kepala sekolahnya tidak mempermasahkan hal itu, beliau hanya bilang yang penting ada kemanuan, mau belajar dan sabar, karna mengajar anak-anak.

Alhamdulillah cukup memberikan kesibukan dan menghilangkan kejenuhan, menikmati menjadi seorang pengajar menganggapnya sebagai latihan kalau nanti Allah mengizinkan  punya anak.
Mengharapkan kehadiran buah hati belum juga Allah berikan, tanda-tandanya pun belum terlihat, segala ikhtiar sudah kami coba seperti minum madu penyubur kandungan, menjaga asupakan makanan dan lain-lain. Walaupun belum semua kami coba seperti temen-temen rekomendasikan dari medis sampai tradisional sampai ada juga saran berbau-bau mitos yang tidak ada kaitannya sama sekali dengan  kesehatan, anggap saja sebagai bentuk perhatiannya.

Entah kenapa hati ini selalu cemburu dan bergejolak rindu kepada temen yang sudah lebih dulu diamanahi anak. Kata-kata yang selalu malas mendengarnya ketika ditanya “belum hamil juga?” menyudutkan dengan diagnosanya sendiri kandungannya ada kelainanlah, tidak subur, mandul dll, tapi tidak sedikit juga banyak yang mendo’akanku.

***

“Ibu, boleh saya minta tolong?  Rahma sebentar lagi mau punya adik tapi kenapa yak, seperti enggak mau menerima setiap saya belanja perlengkapan buat adiknya selalu marah, padahal sudah saya jelaskan, mamah tetep akan sayang walaupun nanti ada adik  malah menjawab:
“Mamah kenapa pingin punya anak lagi?”
“Inikan rizki dari Allah
“Mamahkan sudah dikasih rizki anak, ko minta lagi, bu Reni saja yang belum punya anak,  ko mamah minta-minta lagi, berikan  ibu reni saja anaknya.
“minta tolong dinasehati ya bu, dikasih pengertian.
Akupun mengiyakan, obrolan singkat dengan salah satu wali murid. Singkat tapi membuatku panjang dalam menanggapinya.
Pulang-pulang nangis, lewat telepon genggam kusampaikan kepada suami. Andai suami tak sabar mungkin diriku akan selalu menyalahkan kejadian tempo dulu.
***

Ibu sudah dewasa belum?”
“Sudah, buktinya ibu sudah nikah”
“Ko, ibu belum punya anak sih, seperti ibu Leni?”
Kujawab dengan senyum, “doain ibu ya supaya punya anak”.

Ya Allah terulang lagi antara kenyataan dan perasaan, kini aku mendengarnya langsung dari seorang anak murid, jadi mereka selama ini memperhatikan dan membandingkanku dengan ibu-ibu yang lain. Kata yang biasa saja menurut mereka tapi entah kenapa diriku gampang tersinggung. Pulang-pulang nangis dan suamilah yang selalu membesarkan hatiku.
“Kenapa Allah belum juga menitipkan anak kepada kita, kan sudah beres kuliah?
“Allah pasti ngasih diwaktu yang tepat, mungkin Allah ingin kita punya sesuatu dulu. Misal rumah supaya ketika kita punya anak enggak pindah-pindah nyari kontrakan”. Aamiin
Tapi doa kita kan, nggak minta itu dulu?
Ya, tapikan Allah yang maha tahu.
***

Allah maha tahu kapan waktu yang tepat untuk diamanahi seorang anak, bisa mengandung dan melahirkan. Ketika sudah selesai kuliah dan wisuda, menjadi seorang pengajar. Hasil dari sebuah penantian itu luar biasa suatu rizki yang tak terkira, benar Allah berikan sesuai dengan yang dibutuhkan hamba-Nya. Allah kasih hadiah yang luar biasa yaitu bisa merasakan menjadi wanita sempurna. Akupun hamil.

Waktu yang ditunggu-tunggu melihat makhluk kecil itu menghirup udara bumi, “nak, kau seperti malaikat kecil yang dikirimkan oleh Allah sebagai ganjaran dari sebuah penantian umi dan abi”. Alhamdulilah anak pertamaku lahir dengan jenis kelamin laki-laki lahir tepat pada tanggal 10 Mei 2014 setelah Subuh. Kaupun mengisi hari-hari kehidupan kami. Bulan demi bulan kau tumbuh menjadi anak yang sehat. Namun ada kejadian yang akan selalu berbekas ketika kau diusia 14 bulan, Arya nama anakku sudah bisa berjalan, seukuran anak memang sedikit rada telat, walaupun keterlambatan itu masih terbilang wajar.
***

Kali ini kami sekelurga mudik ke rumah mertua tapi suami pulang lebih awal ke Karawang tanpa kita berdua dengan alasan kasihan kalau pulang dengan menggunakan bis umum. Rencananya minggu depan baru dijemput dengan meminjam mobil teman suami. Itu alasan kenapa saya cukup lama liburan di sini. Malam itu tepat jam 1 dini hari Harits terbangun badannya panas dan buang air besar, aku pun membawanya ke kamar mandi untuk membersihkannya dan menemaninya tidur kembali tapi badannya semakin panas ASI pun kuberikan, rasa cemas dan gelisah dengan kondisi badannya panas sekali. Hanya memeluknya dan lisan ini menyebut-nyebut nama-Nya. Semoga baik-baik saja, tak berapa lama kejadian mengerikan itu datang, Harits dengan matanya membelalak ke atas badannya gemetaran. Posisi kita di kamar hanya berdua, teriakan kencang  memanggil,
“Bapak... Ibu”
Dalam kondisi seperti itu air mataku jatuh tak terasa.
“Ya Allah kenapa ini  Bapak, Ibu dan adik ipar menghampiri.
“Astaghfirullah.. kenapa?”
Aku hanya bisa menangis tidak mengerti apa yang terjadi. Minimnya pengetahuan seorang ibu yang baru diamanahi seorang anak. Hanya di usap-usap kakinya dan mukanya dengan air yang di tuangkan ke tangan.

Adik iparku lari memanggil pamam yang rumahnya bersebelahan. Bapak pergi ke dapur membawa air dari termos dan mencampurnya dengan air dingin. Arya masih dalam pelukanku dalam kondisi tetap menangis. ketegangan pun kami rasakan.
Paman dan Bibi berdatangan, alhamdulillah Arya mulai sedikit tenang. “ya Allah rasa ketakukan seorang ibu kalau anaknya akan diambil Engkau ya Allah (gumamku dalam hati).
Ucap syukur kuucapkan. Semua orang yang berada dikamar semua menangis.
***

Di dalam sujud subuh aku menangis, sholat bersebelahan dengan ranjang tempat tidurnya. Kutatap lekat-lekat mukanya dan kuusap keningnya badannya masih panas. “Ah kenapa aku tak punya pengukur suhu badan di sini, jadi tidak bisa tahu berapa suhu badannya”. dia tidak mau lepas dari pangkuanku dan  selalu ingin di dekapan uminya.

Bapak dan ibu memintaku untuk tidak mengabari abinya dihawatirkan akan gelisah dan sudah dibayangkan pasti langsung berangkat seketika itu juga.
Hari minggu ini memang tepat abinya mau menjemput kami untuk pulang lagi ke Karawang. Aku menurut saja apa yang ibu minta demi keselamatan suamiku. Padahal hati ini ingin ku memeluknya dan menceritakan semua kejadian itu dan meluapkan kegelisahanku karena takut terjadi apa-apa tapi kutahan-tahan, hanya melalui telepon kami saling bertanya kabar. Memang selalu begitu selama kami di sini tak pernah terlewat sehari pun beliau menanyakan kami, sehari bisa 3 kali menelpon menjelang berangkat kerja, waktu jam istirahat dan setelah maghrib sambil menunggu solat isya, kalau lewat SMS tidak terhitung.

Selamat Dari Maut

Ingin rasanya kubilang “Bi, cepet pulang jemput kami”, hanya bisa berucap di dalam hati, disebrang telepon sana menanyakan kabar kami. Berusaha menahan dan menyembunyikannya “Bi jam berapa ke sini?” Pertanyaan yang sudah tahu jawabannya. Hanya sekedar cara mengalihkan keresahan. Tidak bisa membayangkan kalau semua kejadianku sampaikan yang sebenarnya. Pasti sudah lari dengan motornya tidak peduli waktu dan jarak, perjalanan dari karawang ke majalengka bisa kami tempuh 4 jam perjalanan dengan menggunakan sepeda motor. Waktu itu belum punya Arya, kalau sendiri bisa memacu lebih cepat dengan waktu 3 jam bisa di tempuh apalagi mengendarai motor sendiri tanpa membonceng.

“Halo Mi?” Lamunanku buyar. Aku terdiam sejenak dan berusaha menyimpan kemelut gundah dan kehawatiran terhadap anak kami dan kehawatiran suami bisa mengendarai dengan waktu yang singkat. Resah menanti sosok itu datang berapa kali menegok jam dinding, ya Allah, dua jam itu lama”. Alhamdulilah Karawang-Majalengka merasa lebih cepat dengan menggunakan jalur Tol Cipali. Bagiku lama karna memang sangat nanti-nanti.

Suara klakson mobil tut tut, menengok jam dinding tepat jam 9.10, saya tidak bisa menyambutnya karna Harits dalam dekapanku. Hanya berharap “Bi...masuk ke kamar cepetan.  Seperti tak tertahan air mata karna sudah ditahan-tahan menantimu. Benar saja suami tak langsung menghampiri karna mengobrol dulu dengan ibu dan bapa pasti menanyakan kondisi Harits.
***

Sudah mempersilakan pak Rendi duduk, beliau itu temen suami dan memang sudah meminta tolong untuk menjemput kami sekaligus yang mengemudikannya, demi kenyamanan kami dalam perjalanan. Dengan ditemani Bapa dan Ibu, pak Rendi dijamu di ruang tamu.

“Mi, suami masuk ke dalam kamar, melihatku hanya terdiam dan sembab disusul oleh Ibu, “Alhamdulilah sudah tidak apa-apa ko”. Ibu berusaha menenangkan anak pertamanya. Ibu pun meninggalkan kami bertiga. Memelukku dan pencium keningku dan mencium anaknya. cukup lama. “Bi.. Harits bagaimana? tanyaku.
Alhamdulilah terbangun dan dipeluk abinya menggendonhnya dan membawanya ke kandang kambing yang terletak di belakang rumah. Paling seneng kalau sudah lihat kambing. Bercakap-cakap antara anak dan Bapa seperti rindu yang di tinggal lama. Aku pun bisa lega jagoanku sudah ceria lagi.

“Ibu...” terdengar dari belakang rumah suara teriakan abinya.
“bawa ke dalam”. Ibu berteriak sambil lari menghampiri, Aku yang sedang berkemas  di dalam kamar segera keluar menghampiri. Harits mengalami kejang lagi dan dibawa ke ruang tengah. ya Allah kenapa lagi kamu nak? aku hanya menangis. “ Harits...bangun-bangun” cukup lama ditidurkannya, aku tak kuasa hanya menangis sambil berteriak. Ibu, bapa dan adik sudah tidak peduli dengan teriakanku. Perhatiannya ditujukan hanya kepada kondisi Harits.

Bapak yang menemani pa Rendi di ruang tamu berlari menghampiri kami diruang tengah. Suasana yang mencekam dengan ketegangan. ”Kang, coba kasih napas buatan lewat mulut”. Mintanya kepada suami.
Pa Rendi menekan-nekan dadanya dengan telapak tangannya.

“Harits soleh bangun nak”
terus kang, kata pa Rendi. Masih meminta untuk memberikan napas buatan. Semua orang yang ada di situ menangis. Terlebih dengan diriku sudah tidak karuan menyaksikan itu.

"Ya Allah tidak ridho kalau Kau ambil dia, hamba belum ikhlas ya Allah, menjerit didalam hati. “Ya Allah selamatkan anakku”
Matanya mulai menutup saya semakin histeris memanggil-manggil namanya, “bangun nak, umi sayang dede, bertahan nak!. “Harits... harus kuat”. Abinya masih memberikan tiupan udara lewat mulut yang ditempelkan ke mulutnya. Pa Rendi masih sibuk menekan-nekan dadanya. Badan saya sudah lemes tak kuasa tubuh ini seperti melayang diudara kaki seperti tak menginjak bumi. Semua yang ada di ruangan itu merasakan yang sama, Bapak, Ibu Adik ipar semua menangis menyaksikan kondisinya  Teriakanku mulai mengecil ya Allah.

 Eh...eh...ngeh ngeh...pecahlah suara tangisannya. Alhamdulilah semua orang berucap syukur, ya Allah dia selamat dari maut. Dia terbangun dengan tanda tangisannya, diriku masih dalam kondisi nangis menciumnya. Pa Rendi masih terngah-ngah berkeringat. Rasa sedih itu telah berganti. Ya Allah terima kasih Engkau telah menyelamatkan nyawa anak kami.
***

Kami pun pulang ke Karawang dan langsung membawanya ke rumah sakit, dengan izin Allah Harits pun harus di rawat inap.
***

Kini Harits sudah 4 tahun usianya. Nak, kau bagaikan malaikat kecilku yang Allah kirim untuk melengkapi kebahagian kami.

Kau seperti menghiburku ketika umi mengalami sakit.  Menangis karena menahan rasa sakit, kau usap air mata umi dengan ujung bajumu seperti ibu yang menyeka air mata anaknya kala menangis, kau pun menyuapi umi makanan yang kau makan. Sesekali lewat tangan mungilmu, kau memijit-mijit kepala umi, kau pun seperti sedang menjagaku. “Umi jangan takut ya, kan ada Aa (sebutan Harits), “kalau umi sakit terus nangis umi istighfar ya!.

Ya Allah jadikanlah dia anak yang sholeh, penyejuk hati dan mata kami, bermanfaat buat umat, menjadi tabungan pemberat amal buat kedua orang tuanya. Aamiin.

Karawang, 01 Agustus 2018


Tidak ada komentar:

Posting Komentar