Berharap Sejahtera dan Bahagia dengan Kesetaraan Gender
Oleh: Yuyun Suminah
Berbicara kesetaraan gender yang mempunyai arti menyamakan kedudukan antara hak laki-laki dan perempuan menjadi isu yang terus diperbincangkan dalam momen dunia, seperti dalam peringatan hari perempuan internasional.
Internasional Women's Day memang sudah berlalu, tapi geliatnya masih bisa kita rasakan. Setiap tahunnya tepat pada tanggal 8 Maret dunia Internasional memperingati hari tersebut. Dari tahun ke tahun yang terus dikoar-koarkan hanya sebatas kesetaraan. Kesetaraan yang mereka tuntut tidak lebih hanya urusan minta disejajarkannya dengan laki-laki, seperti aktivitas didalam demokrasi yang memastikan akses pekerjaan yang setara dan upah yang sama.
Sejak tahun 1909 perayaan ini telah dilaksanakan, semangatnya adalah menuntut keadilan dan kebebasan untuk perempuan. Hari Perempuan Internasional ini digagas karena peristiwa kekerasan terhadap perempuan di Kota New York, Amerika Serikat pada tahun 1857 dan sejumlah peristiwa-peristiwa yang menyudutkan perempuan. Maka dari kejadian tersebut mereka menuntut kesetaraan yang sama dengan laki-laki.
Pada tahun ini Jargon ”Balance for better” (Kesetaraan Lebih Baik) menjadi tema yang diusung. Ini ditujukan untuk kesetaraan gender, kesadaran yang lebih besar tentang adanya diskriminasi dan merayakan pencapaian perempuan. Hal ini termasuk mengurangi adanya gap pendapatan atau gaji pria dan wanita. Memastikan semuanya adil dan seimbang dalam semua aspek, pemerintahan, liputan media, dunia kerja, kekayaan dan dunia olahraga," demikian penjelasan di situs resmi Hari Perempuan Internasional. (Detik.com).
Lagi-lagi yang mereka perjuangakan tak lebih dari sekedar materi terutama bagi perempuan yang bekerja yang menilai tidak ada keseimbangan gaji antara laki-laki dan perempuan. Itu semua bukan hanya dialami oleh perempuan Internasional saja termasuk perempuan Indonesia pun mengalami diskriminasi dalam hal Gaji (materi).
Apakah dengan diusungnya tema tersebut perempuan akan merasakan kesetaraan?
Faham feminis kesetaraan Yang Semu
Feminisme adalah sebuah faham atau gerakan yang memperjuangkan kesetaraan bagi perempuan dalam politik, ekonomi, budaya, ruang pribadi, dan ruang public. Faham tersebut lahir tidak lain dari sebuah sistem kapitalis.
Dalam sistem kapitalis menawarkan kesetaraan gender yang berbalut atas nama HAM (Hak Asasi Manusia) menjadi pelindung bagi siapa saja untuk meminta hak yang sama. Pemisahan agama dari kehidupan yang menjadi akidah dari system kapitalisme ini membuka lebar para kaum feminis untuk gencar menyebarluaskannya, menganggap agama adalah menjadi penghalang setiap perempuan untuk berkarya dan menyalurkan bakatnya diranah publik.
Maka wajar dalam sistem kapilatis menilai perempuan bahagia dan setara itu ketika hak-haknya terpenuhi, yang mana itu tidak lebih hanya bernilai materi belaka.
Di indonesia sendiri mencatat ada 6 keberhasilan dari peringatan hari perempuan tersebut diantaranya:
1. Kesempatan dalam dunia politik dan urusan Negara
Dunia politik tak hanya milik kaum laki - laki bahkan hampir 50 persen perempuan menempati jabatan strategis di kursi parlemen dan juga partai, meskipun dunia politik dianggap rawan untuk perempuan, akan tetapi banyak artis, musisi dan lainnya memilih untuk terjun ke dunia politik. Mereka rela melepaskan karir ke-artisan demi fokus di dunia politik seperti Rieke Dyah Pitaloka, Nurul Arifin dan Venna Melinda. Untuk urusan negara pun kaum perempuan juga menempati jabatan srategis seperti Menteri Keuangan Sri Mulyani dan Menteri Kelautan Susi Puji Astuti, tentu bukan perkara mudah bagi mereka dilibatkan dalam urusan negara.
2. Kesempatan Dalam Dunia Pekerja
Meskipun ada beberapa posisi pekerjaan yang tidak begitu menyenangkan untuk perempuan, mulai dari gaji hingga lingkungan dia bekerja. Tapi tenang semua perempuan berhak untuk berkarir sesuai dengan bidangnya.
3. Perlindungan dan Kenyaman
Kasus pelecehan terhadap perempuan selalu terjadi setiap tahunnya, tentu ini menjadi PR untuk kita semua bagaimana caranya perempuan diberi perlindungan dan kenyamanan, selain itu kasus KDRT pun semakin marak perempuan dengan gampang mendapat kekerasan, ingat perempuan itu untuk dilindungi bukan untuk dilecehkan atau disakiti. Sekarang sudah ada Undang - Undang yang mengatur soal kasus pelecehan dan kekersan dalam rumah tangga, itu menjadikan alat pelindung bagi perempuan.
4. Bebas berkarya dan berekspresi
Perempuan kadang dianggap mahluk lemah yang terkadang tidak bisa diandalkan, tapi perempuan juga punya ruang tersendiri untuk mereka berkarya dan berekspresi tanpa harus menjatuhkan orang - orang disekitar. Perempuan berhak untuk lantang menyuarakan ide - ide kreatif juga, selagi hal itu positif, semua bisa dilakukan.
5. Melanjutkan Pendidikan
Paradigma di masyarakat mengenai perempuan tidak perlu tinggi - tinggi pendidikannya, karena kodratnya mengurus rumah tangga dan anak-anak, zaman sekarang pendidikan tinggi juga perlu untuk bekal mendidik anak - anaknya nanti, selain itu juga bisa menunjang karir mereka sebagai ibu rumah tangga.
6. Kesetaraan bagi sesama perempuan
Banyak sekali kita menemukan kasus penghinaan, pelecehan sesama perempuan hingga soal penampilan dan juga urusan personal, artinya disini kita wajib memperjuangkan hak kita dengan sesama dimata perempuan.
Benarkah keberhasilan tersebut diperoleh setiap perempuan?
Keberhasilan tersebut berkedok ekploitasi hanyalah topeng belaka, mungkin hanya segelintir perempuan yang merasakannya, di luar itu masih banyak perempuan yang merasa tertekan bahkan stres karena banyak tuntutan-tuntunan yang harus mereka penuhi.
Khilafah Memberikan Kesetaraan Terindah
Dalam sistem Islam yang diterapkan di bawah naungan sebuah institusi yaitu Negara Khilafah memberikan kesetaraan yang terindah, yaitu langsung dari Sang Pencipta. Tidak hanya kesetaraan, perlindungan dan kenyaman pun akan diperoleh oleh setiap perempuan baik perempuan muslim maupun non muslim.
Allah memberikan hak-hak sepenuhnya, selalu pas, sesuai porsi, adil dan seimbang dalam memberi. Misalnya, kenapa Allah mewajibkan bagi laki-laki untuk mencari nafkah sedangkan kepada perempuan tidak (hanya mubah saja). Laki-laki diwajibkan karena menjadi tulang punggung keluarga, ia berkewajiban menafkahi anak, istri bahkan ibu dan adik-adiknya. Sedangkan perempuan tidak. Karena Allah tahu secara fisik perempuan tidak akan kuat menanggung beban tersebut, karena keterbatasan fisik dan gerak. Akan tetapi keterbatasan itu bukan sebuah kedzaliman tapi itu sudah ketetapan dari Allah SWT.
Dalam Islam tidak ada larangan seorang wanita untuk bekerja selama tidak keluar dari kodrat dan perannya yang utama dan tentu selama syariat membolehkan. Seperti pendidikan atau pengajaran, administrasi, dokter kandungan dll.
Ada sebuah kisah dimasa Umar mengngakat Asy Syifa binti Abdullah Al'Adawiyah sebagai pemimpin jawatan pengawas pasar, atau Aisyah yang mempunyai kemampuan dibidang kedokteran pada usia 18 tahun.
Laki-laki dan perempuan bukan saling merendahkan posisi dan tugas masing-masing, tapi keduanya adalah belahan yang tak terpisahkan.
Sesungguhnya wanita adalah belahan tak terpisahkan dari lelaki (HR. Ahmad dan Al baihaqi)
Artinya laki-laki dan perempuan saling bersinergi, melengkapi bukan malah saling menciptakan konflik.
Taqwa
Allah SWT menilai kita semua berdasarkan tingkat taqwanya, bukan dengan gender apalagi dengan materi. Allah SWT telah memberikan beberapa kondisi terhadap perempuan, yang mana itu tidak dialami dan dirasakan oleh laki-laki, seperti Allah memberikan istirahat bagi perempuan yaitu haid dan nifas untuk tidak melakukan ibadah, puasa dan sholat.
Jika seorang perempuanmempunyai derajat ketaqwaannya dihadapan Allah itu tinggi, maka ia menjadi orang yang mulia.
Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling taqwa di antara kamu (QS. Al Hujurat : 13)
Ketika kondisi seperti ini telah hinggap pada seorang wanita, maka yang namanya penuntutan kesetaraan gender sudah tidak ada lagi nilainya dihadapan Allah SWT. Dengan ketaqwaan yang menjadi prioritas utama dalam tujuan dan harapannya, maka bisa jadi kualitas perempuan melebihi laki-laki dalam hal ketaqwaannya. Seperti yang kita ketahui bersama bahwa minimalnya ada 4 orang sosok perempuan yang sangat mulia di hadapan Allah SWT seperti: Aisyah (istri Fir’aun), Maryam (Ibunya Nabi Isa as.), Khadijah (Istri Rasulullaah saw), dan Fatimah (Puteri Rasulullah).
Demikianlah Islam dulu pernah menjadi kiblat peradaban dunia yang mampu memuliakan perempuan tanpa menghilangkan fitrah mereka. Sehingga tak ada ceritanya emansipasi yang digawangi kaum feminis itu mampu membangkitkan perempuan secara luhur dengan kampanye persamaan gender. Itu tidak lebih merupakan skenario musuh Islam yang malah membuat kaum Hawa makin tertindas dan terhina, kedudukannya dilecehkan serta melupakan perannya sebagai istri, ibu sekaligus pengatur rumah tangga. Kesejahteraan wanita secara hakiki akan dapat dirasakan ketika wanita hidup dalam system Islam di bawah naungan Daulah Khilafah Rasyidah ‘ala Minhajin Nubuwwah.
Wallahualam.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar