Hijrah, Tak Selonggar Jilbabku
Oleh: Yuyun Suminah
Dilahirkan dari kelurga broken home membuat aku mencari sosok panutan sendiri dan mencari ilmu agama sendiri. Ya. Berawal dari seorang teman SMP dia sudah hijrah lebih dulu ketika akan melanjutkan pendidikan ke bangku SMK (Sekolah Menengah Kejuruan). Sudah lebih dulu menutup auratnya sedangkan aku masih berseragam pendek tapi punya niat ingin mengikuti jejak sahabatku.
Menutup aurat dengan seragam abu-abu. Aku pun memesan semua seragam sekolah dengan setelan panjang semua. Berharap bisa menutup auratku ketika di sekolah tapi niatan itu terhalang oleh biaya yang belum bisa dilunasi walhasil, seragamku hanya sebagian yang aku terima.
Seragam pramuka belum bisa dipakai dan aku harus tetap menggunakan seragam pendek bekas SMP. Tapi niat tuk mengikuti kajian Rohis di sekolah tak menyurutkanku tuk datang. Ya. Aku satu-satunya peserta yang hadir tanpa memakai kerudung dan berseragam pendek. Bukan, bukan tak mau aku memakainya tapi tak mampu membeli sampai seragam dari sekolah aku dapatkan.
Terkadang aku iri kepada mereka yg sudah punya seragam panjang tapi tidak memanfaatkannya dengan baik, seragam lengan panjang dilipat sampai siku seperti seragam pendek, berkerudung pun demikian hanya sekedar menempel di kepala bahkan melilitkannya di leher tak ubahnya seperti Syal.
Sahabatku dengan iba menawarkan seragam panjangnya,
"Yun... mau gak seragam pramukaku?, kebetulan punya 3, dikasih sodara."
Tanpa berpikir panjang aku langsung menerimanya. Alhamdulilah lengkap sudah seragam sekolahku dan yang pasti bisa mengikuti kajian Rohis dengan menutup auratku.
*
*
Belum sempurna iman seseorang sebelum dia diuji, aku baru bisa menutup kepalaku dan berseragam panjang di sekolah tapi di luar jam sekolah masih belum bisa. aku masih menggunakan setelan celana panjang. Ya. Baju ku sedikit sekali yang setelan panjang-panjang. Bukan tak mau menggunakannya tapi tak mampu tuk membelinya.
Sampai aku lulus SMK pakaianku masih belum sempurna mungkin ini proses yang harus aku lalui sampai aku lulus dan berniat mencari kerja. Ujian datang lagi ketika aku di benturkan dengan 2 pilihan. Waktu itu dua aktivitas aku jalani kerja sambil kuliah. Aku pilih mana, disatu sisi aku harus membiayai kuliahku dan disatu sisi aku tak mau menanggalkan kerudungku hanya karena pekerjaan.
Orang yang menawari aku kerja bilang, " Nggak apa-apa nggak pake kerudung, kan cuman waktu kerja saja, nanti pas pulang dipake lagi". Ini tuntutan pekerjaan sebagai seorang SPG di sebuah Mall yang ada di kotaku.
Baru mendengarnya saja hatiku sudah sakit bagaimana kalau itu terjadi. Ya Allah aku tidak akan membiarkan kelapaku terbuka. Karena tuk menutupnya harus melewati perjuangan yang panjang. Tawaran itu akhirnyaku tolak.
*
*
Tawaran kerja menghampiri lagi kali ini di sebuah Perusaan swasta. Dengan segala pertimbangan akupun melamar. "Kalau lulus tes berarti rizkiku di sana, jika tidak aku pasrah semoga KAU memberikan rizki lewat jalan yang lain".
Ternyata aku keterima tanpa mempermasalahkan kerudungku hanya saja tidak boleh memakai jilbab (Gamis). Waktu itu setiap pilihan masih banyak yang 'dimaklumi'. "Tidak apa-apa seragam kerja nggak bisa pake jilbab juga, toh masih pake setelan celana panjang asal kerudungku masih bisa aku pakai". Pikirku begitu... tapi kenapa jiwa ini menerima setengah hati .
Mengingat sahabatku sudah sempurna dalam menutup auratnya. Aku kapan ya, bisa seperti sahabatku. Di lingkungan kerja aku tak bisa leluasa karena harus patuh dengan aturan. Berbeda dalam kehidupanku sehari-hari sudah mulai membiasakan bergamis (Jilbab).
Walaupun rasa cape menghampiri, ketika mau keluar sekedar ke warung saja aku harus menambahkan pakaianku atau mendoblenya dengam gamis. Ribet. Belum lagi harus berkaos kaki. Tapi inilah proses yang harus aku jalani. Merasa ribet karena belum terbiasa. Jangan kalah dengan rasa ribet ini dibandingkan dengan ribetnya nanti di akhirat.
*
*
Menjalani dua aktivitas membuatku jenuh. Kerja- pulang- kuliah-pulang-kerja lagi. Begitu saja ritmenya. Hati ini terasa hampa ingin rasanya mengaji lagi seperti dulu sekolah.
Alhamdulilah dengan perantara sahabatku, dipertemukanlah dengan sebuah kajian. Dan bisa mengaji seminggu sekali setiap hari ahad mengisi rutinitas rutinku. Kini rohaniku di siram oleh kucuran ilmu agama tak ada lagi merasakan hampa justru seakan-akan aktivitasku berarti walaupun lelah karena setiap pekannya ku isi dengan kajian. Semoga keberkahan Allah limpahkan kepadaku Aamiin.
di tempat kerja tidak mempermasahakan kerudung tapi niat hati ini bergemuruh "masa hijraku setengah-setengah gini. Kapan aku menutup aurat dengan sempurna". Ya Allah kenapa ujian hijrahku selalu KAU benturkan dengan materi. Perih dada ini rasanya kalau mengingat biaya kuliah.
Tapi aku yakin Allah berikan ujian karna Allah ingin menjadikanku kuat bah karang yang di terjang ombak. Semoga. Iri rasanya melihat sahabatku yang sudah jauh menapaki jalan hijrah. Sedangkan aku, masih berkecamuk dengan urusan materi, takut dengan kehidupanku di dunia gimana dengan biaya kuliahku.
*
*
Mungkin ini cara Allah menuntaskan hijrahku secara kaffah. Ya. Menutup aurat dengan sempurna. Aku kerja akhir-akhir ini sering sakit-sakitan. Apa mungkin aku harus risend. Risend belum waktunya karena kuliahku belum selesai masih harus menunggu 1 tahun lagi. Tapi rasa-rasanya aku sudah tak nyaman dengan keadaan seperti ini. Hatiku gelisah, gamang, galau selalu dihantui rasa ketakutan.
Aku ini sudah tau ilmunya, hukum menutup aurat bagi perempuan tapi kenapa tidak aku kerjakan titah Sang Pencipta itu. Aku lebih memilih mengerjakan titah perusahaan. Astagfirullah. Sesak rasanya dada ini.
Aku hanyalah karyawan biasa disebuah pabrik Jepang yang semua aturan berpakaian harus mengikuti aturan. Lah... trus siapa aku kalau mau nawar-nawar meminta ganti kostum dengan yang syar'i. Pilihannya cuman satu. Risend. Bismilah, aku harus yakin kalau Allah ngasih jalan rizki lewat pintu yang lain. Akhirnya Aku risend
*
*
Ujian itu menghampiri lagi seberapa yakin aku dengan rizkinya. Ngelamar kerja kesana kemari masih nihil. Terbersit dalam pikiran apa aku kerja di pabrik lagi? Tidak, nggak mungkin ya Allah aku sudah bersusah payah hijrah sejauh ini dan sekarang sedang menikmatinya, masa begitu saja rela jilbabku bongkar pasang hanya karena mencari kerja. Pening rasanya memikirkan biaya kuliahku tak mungkin meminta kepada orangtua. Jangan. Jangan.
*
*
Pekerjaan yang pertama setelah risend dari pabrik yaitu menjadi admin sebuah Apotek, di sana dibolehkan memakak pakaian syar'i tapi ada keganjalan yang membuatku tak nyaman.
Pertama tempat solat tak leluasa karena apotek itu milik seorang Noni dan di ruangan kerja terpampang patung-patung.
Ke dua para karyawannya aku perhatikan mereka nggak pernah solat. Padahal mereka muslim. Aku pun hanya bisa solat di gudang obat-obatan. Intinya aku merasakan ketidak nyamanan. Aku khawir, diri yang baru hijrah ini harus terwarnai oleh lingkungan tempat kerja. Ya. Aku hanya bertahan 1 bulan.
Sebelum keluar dari sana alhamdulilah ada temen yang menawarkan aku kerja sebagai Resepsionis di kantor Lembaga Sosial Amil dan Zakat milik swasta.
Alhamdulilah...mungkin ini jalan rizkiku. Walaupun secara materi gajinya kecil hanya cukup tuk ongkos pulang-pergi dan bayar kuliah, satu juta juga tidak sampai. Berbeda sekali ketika kerja di Pabrik aku bisa ngasih ke orangtua dan sodara. Ah... sudahlah semoga Allah cukupkan semuanya Aamiin. Yang terpenting aku nyaman dengan atributku.
Aturan kerjanya sebelum mulai kerja selalu diawali solat Dhuha, tilawah bersama dan kultum secara bergantian. Itu sudah nikmat yang bluar biasa.
Hampir mau 1 tahun aku kerja di sana tapi ada ketidak cocokan dengan kebijakannya. Pertama uang riba bisa digunakan untuk fasilitas kantor, menyumbang perbaikan jalan asalkan jangan dikonsumsi. Kedua Boleh pakai gamis hanya tuk ibu hamil saja yang tidak hamil baju potongan, atasan dan bawahan rok.
Ujian menghampiri lagi di tengah-tengah menapaki jalan hijrah, menyakini baju seorang wanita itu jilbab dan uang riba tidak boleh digunakan walaupun tidak tuk dikonsumsi tapi dialihlan ke keperluan lain.
Solusi yang kulakukan dengan mendoble jilbabku dengan kemeja. Tapi pemahaman tentang bisa memanfaatkan uang riba itu jadi pikiranku. Apakah aku harus risend yang ke tiga kalinya?
Sebelum risend Allah mempertemukan dengan jodohku, mungkinkah ini jalan yang Allah berikan? dengan jalan menikah selain menyempurnakan setengah dien dan menyempurnakan hijahku.
Sebelum genap 1 tahun aku risend dari tempat kerja alasan yang kusampaikan ingin fokus menjadi seorang istri dan menyelesaikan skripsiku.
*
*
aku ini suka kurang pede ketika ke kampus dengan memggunakan jilbab (Gamis) selama ini aku selalu menutupnya dengan switer atau jaket. Belum siap dengan komentar teman-teman. Hal ini pun aku utarakan kepada suamiku.
"Ketika seorang wanita sudah menjadi seorang istri, hanya kata-kata suaminyalah yang harus diikuti selama itu sesuai syariat". Sejuk rasanya mendengar ucapannya memotivas.
Akhirnya aku memberanikan diri pergi ke kampus dengan jilbab dan khimar lebarku. Aku sudah siap dengan komentar mereka. Ternyata bener mereka bilang:
"Ih... yuyun pake gamis"
"Eh... ada bu haji dari mana"
"ada tim marawis"
Aku hanya balas dengan senyuman saja karna suamiku ridho dengan penampilanku.
Sebelum menikah aku harus pintar-pintar beragumen ketika mereka mengajak nonton, nongkrong dan karokean. Walaupun aku tak memungkiri aku pernah ikutan nongkrong dengan mereka. Astagfirullah. Berpakaian syar'i yang tertutup switer. Malu rasanya diri ini ya Allah. Menerima tawaran itu hanya karena aku sering menolaknya.
Tapi aku harus berani menolaknya terus kalau nanti diajak kembali walupun dengan istilah ditraktir, ngerayain ultah ke tempat karokean. Alhamdulilah KAU masih menjaga ku hingga kaki ini belum sama sekali menginjakan ke tempat maksiat itu. Tempat karokean.
*
*
Menjelang wisuda teman-teman sibuk dengan rencana kostum yang akan digunakan. Aku berfikir mungkin kalau pintu hijrah itu belum aku kejar mungkin aku akan mengikuti langlah mereka yang sibuk dengan kostum, make up dll. Sekarang aku bersyukur sudah mengenal Islam.
Di wisudaku tak ada polesan make up hanya pembab bibir dan bedak tipis. Tapi suamiku bilang kalau aku cantik dengan meke up natural ini seperti pengantin saat kita menikah.
Allah menyempurnakan hijrahku ketika aku sudah menikah tak peduli orang mau bilang apa, aku sudah nyaman dengan pakaian ketaatanku ini. Aku sudah tak risik dengan bolak balik pake kaos kaki ketika mau keluar dan tak merasa terkuras tenaga ketika pakai jilbab setiap kali mau keluar rumah.
Alhamdulilah ala kuli hal, ya Allah atas ujian cintaMu selama menjemput hidayah jalan hijrah yang kulalui begitu nikmat. Semoga aku istiqomah di jalan ini. Aamiin.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar