Mengenalkan anak akan status jenis kelaminnya penting banget bagi mereka, sama seperti kita memberikan pendidikan sex sejak dini. Pendidikan sex sejak dini dalam Islam ya. Bukan yang dikoar-koarkan oleh "mereka" dalam sistem kapitalis. Mulai dari usia 2 tahun sudah mulai kita kenalkan. Kalau anak kita ini laki-laki atau perempuan.
Gak perlu pake bahasa ilmiah dan formal yang bikin jlimet, apa lagi bahasa planet 🤭. Nih... emak Harits ngomong apa sih? hehe Ok ok... kita mulai aja ya.
*
*
*
Mendidik anak laki-laki dan perempuan tak bisa disamakan walaupun ada samanya juga. Salah satunya mengenalkan siapa dirinya, laki-laki atau perempuan.
Ini pengalaman saya waktu Harits usia 2 tahunan cara menyampaikannya gampang ko," Dede (waktu itu belum punya adik)😁, dede Harits itu laki-laki kaya Abi, pake peci atau topi". Terus aja sampein gitu dengan sendirinya anak akan melihat gerak gerik Abinya. 😎🧐🧐
Begitu juga mengenalkan kita Ibunya, "Kalau Umi perempuan pake kerudung, gamis dan kaos kaki". Udah gitu aja 😊
Pernah dalam suatu waktu Harits ngerti kalau Uminya mau keluar dia nyodorin kerudung dan kaos kaki karena tadi dia melihat setiap gerak gerik emaknya. Emak bapaknya siap-siap aja dimata-matain ada kamera pengintai yaitu anak kita 🧐🧐😬
Bertambahnya usia, kita pun mulai mengenalkan batas aurat. "Kalau aurat Harits yang ini sambil emaknya nunjukin alat kelaminnya makanya harus di tutup pake celana". Dulu gitu ngasih Maklumat Syabiqohnya (Info awalnya). Jadi kalau Harits ditanya Auratnya yang mana? Dia nunjuk kelaminnya😁
Harits Usia 3 tahunan
Begitu juga mengenalkan kita Ibunya, "Kalau Umi perempuan pake kerudung, gamis dan kaos kaki". Udah gitu aja 😊
Pernah dalam suatu waktu Harits ngerti kalau Uminya mau keluar dia nyodorin kerudung dan kaos kaki karena tadi dia melihat setiap gerak gerik emaknya. Emak bapaknya siap-siap aja dimata-matain ada kamera pengintai yaitu anak kita 🧐🧐😬
Bertambahnya usia, kita pun mulai mengenalkan batas aurat. "Kalau aurat Harits yang ini sambil emaknya nunjukin alat kelaminnya makanya harus di tutup pake celana". Dulu gitu ngasih Maklumat Syabiqohnya (Info awalnya). Jadi kalau Harits ditanya Auratnya yang mana? Dia nunjuk kelaminnya😁
Waktu adiknya lahir Harist banyak mengamati dan bersyukurnya dia selalu bertanya ini itu, ko ade begini ko ade begitu termasuk pertanyaan jenis kelaminnya🙈.
"Umi, ko ade gak ada auratnya?",
Waktu itu dia hanya tau kalau aurat itu (jenis kelamin) yang Harits miliki aja🙈 Laki-laki.
"Ada ko, ini auratnya?"
"Ko, beda"?
"Ya, beda karena ade itu perempuan Aa kan laki-laki.
"Oh"...
Ok tema aurat selesai hehe.
**
Ini penting nih, anak laki-laki sering-seringlah ikut aktivitas Bapaknya. Harits sama Abinya sering diajak-ajak Halaqoh (ngaji), ke Mesjid walaupun solatnya gak sampe beres kadang nongkrong doang atau lari sana lari sini😅 namanya juga bocah. Tujuannya mengenalkan aktivitas Abinya lewat solat.
Awal-awal Harits masih pake celana pendek selutut atau dibawah lutut kalau pergi ke mesjid. Tapi sedikit sedikit mulai dibiasakan pake celana panjang kalau mau ke mesjid. Semua butuh proses ya mak.
Harits sering diajak ke pengajian Bapak-bapak bareng Abinya (Halaqoh) tujuannya mengenalkan bahwa dia laki-laki. Dari sini Harits pun dikenalkan Mahrom.
Ini penting nih, anak laki-laki sering-seringlah ikut aktivitas Bapaknya. Harits sama Abinya sering diajak-ajak Halaqoh (ngaji), ke Mesjid walaupun solatnya gak sampe beres kadang nongkrong doang atau lari sana lari sini😅 namanya juga bocah. Tujuannya mengenalkan aktivitas Abinya lewat solat.
Awal-awal Harits masih pake celana pendek selutut atau dibawah lutut kalau pergi ke mesjid. Tapi sedikit sedikit mulai dibiasakan pake celana panjang kalau mau ke mesjid. Semua butuh proses ya mak.
Ini usia 4 tahunan
Harits sering diajak ke pengajian Bapak-bapak bareng Abinya (Halaqoh) tujuannya mengenalkan bahwa dia laki-laki. Dari sini Harits pun dikenalkan Mahrom.
"Mahrom itu apa mi?"
Emak jawab waktu itu laki-laki dengan laki-laki lagi kaya Harits sama Abi, kalau Umi sama perempuan lagi". Tuk sementara gitu dulu jawaban emak, jangan panjang-panjang entar panjang juga pertanyaannya🤭
"Harits itu laki-laki jadi ngajinya ikut sama Abi ya". Walaupun banyaknya mah ikut ngaji sama emaknya😁
"Harits itu laki-laki jadi ngajinya ikut sama Abi ya". Walaupun banyaknya mah ikut ngaji sama emaknya😁
Ternyata perkataan emaknya membekas, pernah ketika ikut pengajian ibu-ibu harits gak mau salim (cium tangan), emang Harits ini rada susah kalau disuruh salim😄
Walaupun mau salim rada terpaksa gitu mukanya ditekuk😬
Sering emak tanya" kenapa gak mau salim?" "Gak mau, itukan cewek"! Emak timpali aja "tapikan itu temen Umi", dia kekeh sama pendiriannya tetep gak mau.
Usut punya usut dia punya alasan sendiri yaitu bukan Mahrom alias cowok ke cowok lagi. Aa mau salim kalau sama temennya Abi". Walah... pemahaman yang emak pernah kasih ternyata nempel sepertinya perlu direvisi😅.
Sampai-sampai gak mau salim sama guru TKnya waktu daftar dan seminggu dihari pertama sekolah. Alasannya ya itu, harus sama laki-laki lagi. " Gak mau salim Umi, cowok harus ke cowok, cewek ke cewek" tepuk jidat🤦♀️ 😂
Walhasil, emak di rumah meluruskan info yang kurang lengkap itu. "Kalau sama ibu guru, temen Umi gak apa-apa salim". Terus aja diingetin sampai akhirnya mau juga 🤗🤗
*
*
Di rumah yang jadi guru emak bapaknya, sekolah merupakan pelengkap pendidikan anak. Dua elemen tersebut harus saling bersinergi dan lingkungan masyarakat juga mempengaruhi. Bersyukur Aa Harits berada di lingkungan yang kondusif. 🤲🤲
Dan bersyukurnya Harits punya Cs yang kompak, kalau disuruh solat mereka pada mau. Mereka pun udah apal kalau udah whudu Harits pegang kulit Ica berarti solatnya batal😄. Tau info batal dari sekolah. "Umi kata bu guru (nyebutin nama gurunya), kalau pegang cewek batal ya solatnya?"
" ya." Emak udah curiga pasti ada pertanyaan beranak😬
"Emang kenapa?" Tuk... kan bener😝
"Karna bukan sodara" kaya Aa sama Ica, tapi kalau Ica sama Angga gak batal karna sodaraan. Kaya Aa sama de Hasna gak batal." Emak jawab gitu dulu aja udah cukup😊
Sampai-sampai gak mau salim sama guru TKnya waktu daftar dan seminggu dihari pertama sekolah. Alasannya ya itu, harus sama laki-laki lagi. " Gak mau salim Umi, cowok harus ke cowok, cewek ke cewek" tepuk jidat🤦♀️ 😂
Walhasil, emak di rumah meluruskan info yang kurang lengkap itu. "Kalau sama ibu guru, temen Umi gak apa-apa salim". Terus aja diingetin sampai akhirnya mau juga 🤗🤗
*
*
Di rumah yang jadi guru emak bapaknya, sekolah merupakan pelengkap pendidikan anak. Dua elemen tersebut harus saling bersinergi dan lingkungan masyarakat juga mempengaruhi. Bersyukur Aa Harits berada di lingkungan yang kondusif. 🤲🤲
Dan bersyukurnya Harits punya Cs yang kompak, kalau disuruh solat mereka pada mau. Mereka pun udah apal kalau udah whudu Harits pegang kulit Ica berarti solatnya batal😄. Tau info batal dari sekolah. "Umi kata bu guru (nyebutin nama gurunya), kalau pegang cewek batal ya solatnya?"
" ya." Emak udah curiga pasti ada pertanyaan beranak😬
"Emang kenapa?" Tuk... kan bener😝
"Karna bukan sodara" kaya Aa sama Ica, tapi kalau Ica sama Angga gak batal karna sodaraan. Kaya Aa sama de Hasna gak batal." Emak jawab gitu dulu aja udah cukup😊
"Berarti Angga sama Umi batal dong, sama de Hasna juga ya?", 😄
Emak cuman balas senyum aja. Aa bisa menyimpulkan sendiri. Alhamdulilah
*
*
Kesimpulannya
1. Orangtua kudu banyak belajar, membersamai anak perlu ilmu
2. Kenalkan agamanya sejak dini lewat orangtuanya
3. Berdoa semoga Allah selalu memudahkan kita dalam mendidik titipanNya
Karawang, 29 Februari 2020
Ummu Harits




