Jumat, 03 Januari 2020

Madrasah Tanpa Atap (part # Sesuai yang dikendakiNya)




"Bu... Rumah sebelah mau dijual, harganya 200 juta".

"😱😱😱😱 "
Itu uang semua bu? 😄
.
.

Pesan yang masuk ke WhatsApp dari salah satu tetangga sekaligus wali muridku.
Baca nominalnya aku langsung loncat dan beristigfar, shok.😁

Kabar rumah itu mau dijual sebenarnya sudah tau dari tetangga lain mantan wali murid juga, beliau bilang rumah itu mau di jual 190 juta net segitu, alias titik gak pake koma. Tetiba pala langsung pusing sambil nelen ludah 😅.

Emang ada apa sih? Rumah siapa yang mau dijual? Buat apa?
.
.
Semua tidak ada yang kebetulan. Ya. Allah Sang maha tahu segalanya. Jadi gini, gubukku itu di apit oleh 2 rumah kosong, yang sebelah kanan kondisi bangunan masih prima (bisa langsung di tempati) sebelah kiri kondisi rusak berat (perlu dibangun).

Selama ini Allah masih mencukupkan teras rumahku dijadikan sebagai madrasah. Tempat ngaji anak-anak. Punya mimpi ingin rasanya punya gedung sendiri khusus tuk tempat ngaji. Biar nyaman dan memadai.



                     Foto di ambil tahun 2019
               seperti itu kondisi teras depan.

Waktu pembagian Raport

Setiap sujud selaluku selipkan meminta kepada Sang Maha Kaya, tuk memampukan kami bisa membeli salah satu rumah yang mengapit rumahku itu dengan cara yang Allah kehendaki.

Berharap tahun ini Allah memantaskan kami tuk bisa membelinya walaupun secara kaca mata manusia uang dari mana sebesar itu. Tak ada yang tak mungkin bagi Allah karena itu kami yakin.

Ya. Sekarang anak-anak TPQ sudah di pindahkan kerumahku, karena satu dan lain hal tidak di gedungnya lagi. Yang anak-anak DTA di pindahkan ke rumah bu Siti salah satu guru di Al-Kautsar, gak cukup kalau disatukan.

                      Teman seperjuangan
            (Kiri bu Siti, Umi Hana dan Saya)

Keinginan tuk memiliki gedung semakin besar, pingin rasanya di satu tempatkan anak TPQ maupun DTA. Ketika mendengar rumah samping kanan mau dijual, Allah seperti memberikan titik "cahaya". Apakah ini jawaban dari doa anak-anak. Semoga Aamiin.

Tapi ketika mendengar angka itu, bertanya-tanya dalam hati " uang dari mana". Hanya bisa berdoa semoga sang pemilik rumah Allah lembutkan hatinya supaya harganya diturunkan disesuaikan dengan kemampuan kami.

Biar, biar Allah saja yang menentukan jalannya, bila Allah izinkan pasti salah satu rumah itu akan kami dapati tentu atas kehendakNya. Kalau pun belum bisa tahun ini berarti Allah masih memcukupkan gubuk kami menjadi tempat ngaji (*)

Karawang, 04 Januari 2020







Tidak ada komentar:

Posting Komentar