Jumat, 27 September 2019

Madrasah Tanpa Atap Part# Do'a, Menembus Batas Langit


Jumat, 27 September 2019
Hari pertama dalam acara Pekan olahraga Santri (lagi persiapan mau pulang lagi baca doa)


Do'a, ya setiap orang pasti sering melakukan aktifitas langit ini. Entah dalam solat, menjelang berbuka puasa, dalam keadaan lapang maupun sempit.

Do'a adalah senjatanya umat Islam, senjata yang bisa menembus batas langit. Aku lebih suka menyebutnya seperti itu. Tapi tak hanya doa saja tapi perlu yang namanya usaha, doa lagi, usaha lagi, doa lagi terus saja seperti itu sampai Allah bener-bener melayakan kita mengabulkan doa kita diwaktu yang tepat.

Diwaktu yang tepat bukan berarti Allah tidak mendengarnya. Allah hanya ingin tahu saja seberapa serius hambanya berdoa meminta, memohon sesuatu kepadaNya.

Begitu juga dengan kami, saya dan suami bahkan anak-anak juga harapannya sama ingin punya tempat belajar yang memadai.
Memadai tuk belajar.

Berbicara soal kelayakan kalau kita nilai dalam kaca mata manusia dengan penilaian Allah mungkin berbeda. Manusia mungkin menilai belum terkategori layak, dengan jumlah anak yang banyak seperti itu tanpa diimbangi dengan tempat yang luas.

Ketika Allah menilai bukan tempat yang jadi prioritas tapi kualitas mengajarkan ilmu itu sendiri. Walaupun tidak memungkiri tempat menjadi sarana penting juga karena demi kenyamanan belajar.

Kalau berbicara tempat disitulah keterbatasan kami, ya Allah saksikan kami biar rumah ini jadi tempat pelantara menyampaikan Ilmu agamaMu. Semoga saya dan suami bisa menjaga niat ini. Apa yang kami berikan semata-mata hanya karenaMu Aamiin.

Mereka memang gak pernah ngeluh tempat sempit, meja sedikit. Aku selalu memahamkan tuk berbagi, mengalah sama adik-adiknya yang TPQ tapi kadang hati gerimis😥 melihat keterbatasan ini.

Setiap hari mereka berlomba-lomba datang duluan terutama anak -anak kecil jenjang pra TPQ dan TPQ hanya ingin mendapatkan meja. Ya, jumlah meja tak sebanding dengan jumlah anak-anak. Dua papan tulis besar yang berdiri tegak pun semoga cukup jadi perantara ilmu yang diberikan. Dua kipas angin yang bertengger di tembok semoga cukup tuk mengusir peluh keringat mereka.

Hanya segitulah kemampuan kami ya Allah memberikan sarana pendukung tuk belajar mereka.
.
.
.
Hanya dengan doa yang bisa menembus batas langit, aku selalu minta mereka tuk berdoa semoga Allah segerakan, layakan, dan mampukan kita tuk bisa memiliki tempat belajar yang memadai.

Semoga Allah mengabulkan doa-doa mereka dan kita gak pernah tau doa diantara mereka siapa yang Allah kabulkan.

Terus tembus batas langit itu ya anak-anakku semoga diantara rumah kosong kanan dan kiri bisa kita jadikan tempat belajar kita Aamiin.

Allah Sang penggenggam segalanya, Allah maha kaya tak ada yang tak mungkin bagiNya. Ya Allah semoga Kau mengabulkan doa kami dan harapan kami Aamiin

Karawang, 29 September 2019



Tidak ada komentar:

Posting Komentar