Part#1
Flashdisk
"Pa, lagi baca apa?”
Serius amat sih.
Sambil menyodorkan kertas hasil prinan yang sudah disteples.
“Baca aja nih!”
Di lihat dari penampilannya gak menarik, huruf semua bisikku dalam hati. Namanya juga Kumpulan artikel. Tapi yang bikin tertarik tuh bahasanya gaul dan ringan kalau diliat dari setiap judulnya.
"Pa, boleh pinjem ya?”
“Boleh. Bawa saja sana” Sebenernya masih banyak lagi, kalau mau filenya aja. Nih... bawa aja flashdisknya”.
"Ok pa, siap!"
Dengan senang hati. Setelah ku ambil Flashdisknya, kita melanjutkan pekerjaan yang tertunda oleh jam istirahat.
*
*
Tepat jam 16.30 pertanda waktunya pulang kerja.
Disepanjang perjalanan pulang dengan motor Metic sepuh pikiranku berkelana, membatin dalam deburan suara knalpot dan klakson.
"Bosen banget menjalani rutinitas kerja-pulang-makan-kuliah-tidur-bangun lagi-pagi-kerja lagi". Bosen.
Bada Magrib harus sudah berangkat kuliah. Jarang banget bisa ngobrol bareng keluarga sambil menunggu solat Isya bisa nonton TV bareng. Ya, beginilah konsekuansi dari pilihan hidup. Kerja sambil kuliah. Ya, begini resikonya. Cape sudah jelas, terkadang aku suka nundutan di kampus ketika Dosen menjelaskan atau nundutan di tempat kerja. Kalau inget itu gokil suka pingin ketawa haha, bersyukurnya di kampus maupun di tempat kerja dapet temen-temen yang baik membiarkan aku menikmati dalam lautan nundutan Haha...
*
*
Motor meticku membawa semakin menjauh dari tempat kerja dan sampai ke Kosan. Ku tengok jam tanganku sudah jam 17.30. Waktu cepet sekali kau berlalu, segera bergegas masuk ke dalam, langsung kubuka switer kasualku dan kujatuhkan badan ke kasur.
"Ah... pingin rasanya bisa tidur lebih awal". Eh..jangan gini, bukankah ini pilihanku!. Bukankah sudah memperhitungkannya dulu sebelum mengambil pilihan ini. Akupun bangkit dari bayang-bayang nikmatnya tidur disaat fisik lelah. Berlari menuju kamar mandi dan Adzan Magrib pun berkumandang. Selesai solat dan makan aku harus sudah berangkat lagi membelah jalan ibu kota melewati cahaya lampu penuh dengan warna-warni menghiasai kota kelahiraku.
*
*
"Pelajaran yang bikin aku mumet dan memang aku gak suka yaitu pemograman. rumus-rumusnya bikin aku pening. Tepat jam 10 malam kuliah selesai setiap harinya dua mata kuliah, jarang sekali 1 mata kuliah. Paling seminggu 1 hari saja.
Malam sudah pekat tapi keramaian masih terlihat pedagang-pedagang malam menggelar lapaknya. Diwaktu siang tempat tersebut Toko Parfum sedangkan waktu malamnya diisi oleh Tukang Nasi Goreng yang memanfaatkan halaman parkirnya. Ya, itulah rizki dari Allah masih memberikan karuniaNya dimalam hari. Padahal Allah memerintahkan malam untuk diisi dengan bermunajat kepadaNya dan siang bertebaranlah mencari rizkinya. Bekerja.
.
.
Motor Meticku terus melaju switer kasualku tetep setia membalut tubuhku dari hawa dingin malam.
Setiap hari senin sampai sabtu beginilah rutinitasku. Kesibukan seperti ini tak begitu aku nikmati seperti ada sesuatu yang hilang dari kalbu, seperti ada ruang kosong yang belum terisi. Merasakan hampa, monoton. Tapi entahlah hampa karena apa.
Sengaja kupilih kuliah sambil kerja yang bisa menyesuaikan waktu kerjaku. Ya. aku memilih ambil kuliah kelas karyawan. Menuntut ilmu dengan sisa-sisa tenaga. Rasa bosen sering meradang dalam hati dan pikiran, dijalani saja toh demi sebuah cita-cita berakit-rakit ke hulu berenang-renang ketepian bersakit-sakit dahulu bersenang-senang kemudian.
.
Sudah kubaringkan badan di tempat tidur mataku masih terjaga melihat atap plafon. Sesekali memejam, menarik napas dan hembuskan lagi. Saat mata mulai dipejamkan teringat Flashdisknya Pa Rangga yang masih ditersimpen di tas kerja dan belum ku Copykan ke Leptop. Besok lagi sajalah pagi-pagi sudah gak kuat rasanya ini mata meminta haknya tuk dipejamkan.
.
.
Sudah dua hari Flashdisk lupa terus ku bawa. Tapi Pa Rangga seperti tidak mencarinya tadi di tempat kerja. Mungkin Flashdisknya tidak terlalu penting terutama isinya kalau penting pasti udah teriak-teriak terus. Karena belum dibalikin juga.
"Asalamualikum. Maf, ini dengan Sodari Lie?”
Ada pesan masuk ke ponselku, kubuka pesan itu nomor tak dikenal. Baru.
"Siapa ya?"
Baru kali ini ada yang SMS memanggilku dengan sebutan Sodari. Kalau ibu, mba, teteh itu sudah biasa. Dari pada penasaran. Ku balas pesan singkat tersebut
“Walaikumsalam. Ya. Betul. Maf, ini siapa ya?”
Terkirim
Lama sekali tak dibalas. Mungkin tanggung waktu solat Magrib. Akupun harus sudah siap-siap berangkat ke Kampus. Ponsel sengaja disailen supaya tidak menganggu waktu kuliah.
Sesekali saja ku tengok, siapa tau ada pesan masuk dari nomor yang tadi.
“Maf, Flashdisknya sudah belum ya? Kalau sudah besok bawa ya ke tempat kerja?”
balasan pesan masuk.
.
.
Pikiranku langsung mengingat-ingat perasaan yang kupinjam Flashdisk punya Pa Rangga. Kalau pun beliau yang SMS, kenapa Nomor ya baru? Trus kenapa pakai sebutan Sodari, lebay banget sih.
Nih… Orang gak jawab siapa namanya.
"Maf, ini Pa Rangga bukan ya? Pa, ko Nomor ya baru sih!
Terkirim.
Kumasukan kembali ke dalam tas.
Kembali dibuka setelah sampai di rumah dan setelah membaringkan badan ke kasur. Kutengok lagi ponselnya, ada pesan masuk.
Balasan dari Nomor yang tadi, ku buka riwayat waktunya gak lama aku kirim tuh orang langsung balas. Sekarang sudah jam 11 malam.
“Bukan, saya temennya Pa Rangga. Itu Flashdisk yang dipinjem Pa Rangga. Tolong besok bawa.”
Waduh… aku langsung terperanjat dari tempat tidur. Pa Rangga kenapa gak bilang tuh Flashdisk punya orang lain. Kalau dia temennya Pa Rangga berarti rekan kerjanya. Siapa ya?” Biasanya aku kenal walaupun kenal muka aja, kadang suka gak kenal nama tapi apal mukanya. Yah.. paling gak jauh-jauh dari pilihan prediksiku itu.
“Saya Andri”
SMS susulan
“Andri mana ya? Ya. Maf, besok dibawa”
Terkirim
.
.
Ditempat kerja
“Pa Flashdisk bukan punya Bapak ya? Aduh... Pa, kenapa baru bilang, yang punyanya ngehubungi aku. Itu Nomor aku Bapak yang ngasih tau, kenapa gak izin dulu sama aku. ku todong saja dengan bertubi-tubi pertanyaan abis kesel, ko gak izin dulu sih ngasih Nomor HP ke orang lain.
“Ya. Ya maf. Udah nanti Flashdisknya kasihin ke orangnya, saya mau meeting”
“Loh... ko aku yang ngasihin pa!.” Ya, yalah kan kamu yang pinjem”.
“Tapi kan!” Pa Rangga berlalu begitu saja ninggalin aku. Sambil mikir, duh...orangnya yang mana ya. Harusnya yang balikin bukan aku. Ah... bodo amat. Paling nanti dia SMS lagi, sekarang kerja dulu.
Satu jam kemudian ada yang mencari Pa Rangga, ternyata tuh orang pemilik Flashdisknya.
“Maf Pa, flashdisknya masih disaya belum dikasihin ke Pa Rangga. Ini pa. Sambil menyodorkan tanpa basa-basi hanya saling mengucapkan terima kasih.
Bersambung
.
#Part2
Rasa
Tiddd... Tiiiddd..
Suara klakson panjanh saling bersahutan membuyarkan lamunanku. Astagfirullah jadi selama lampu merah aku melamun. Sambil menjalankan laju motorku.
Perasaan
ini semakin tak dimengerti, kenapa setiap kali bertemu dengan laki- laki itu
dadaku selalu dibuat kembang kempis walaupun melihat dari jarak jauh. Pertemuan
pertama lewat Sebuah benda. Ya. Flasdis berlanjut dengan kiriman kata-kata
motivasi, hadis, ayat-ayat pendek itu sudah membuatku tumbuh rasa aneh seperti
ini. Hanya sebuah tulisan sudah membuat aku bermakna. Tak pernah ditanggapi
hanya sesekali ku ucapkan terima kasih.
Berbeda
sekali dengan Ray laki-laki yang menunjukan sikapnya yang berharap lebih
kepadaku. Perhatian, baik bahkan rela
cuti kerja demi menemani aku waktu tak sadarkan diri ketika kecelakaan lalu
lintas. Dela yang menghubungi Ray, aku pun gak bisa menyalahkan Dela. Mengerti posisi
temanku tersebut pasti bingung dan panik harus siapa yang dia akan hubungi.
Dengan
kebaikan Ray aku sempat berpikir cinta akan tumbuh beriringnya waktu, tumbuh
ketika interaksi itu terus dijalini. Tidak pernah terlewat 1 hari pun untuk
menelpon atau mengirimkan pesan singkat demi menanyakan kondisiku. Tapi kenapa tak
ada sedikit pun benih rasa itu.
Laki-laki mapan dan dewasa bukan masanya lagi mencari pacar tapi lebih dari itu mencari seorang istri. Walaupun kata rasa itu belum dia utarakan. Jangan sampai rasa itu dia utarakan, karena aku pun gak tau apa yang harus aku jawab.
.
.
.
.
.
.
Tapi berbeda dengan Andre
kau sudah membuat aku dalam waktu satu bulan ini kau buat pikiranku kacau oleh rasa ini, menumbuhkan
benihnya. Aku tak mau meresapi rasa ini terus mendalaminya.
Terlebih
ketika pertemuan terakhir di tempat kerja ketika kita saling berpapasan saling
memandang tak ada kata yang keluar sepatah kata pun seperti rekan-rekan kerja
lainnya yang mengucapkan salam perpisahan. Ya. Aku resmi risend hari itu.
.
.
Banyak
yang menyanyangkan dengan keputusan aku berhenti bekerja. Termasuk atasanku. Alasan terkuat aku mengambil keputusan tersebut karena sakit yang ku alami pasca
kecelakaan, benturan yang cukup keras masih menyisakan sakit yang tak
tertahankan segala terapy sudah dijalani hasilnya nihil. Vertigo itulah diagnose
terakhir, sering menyerangku tiba-tiba. Kejadian pingsan di tempat kerja cukup menjadi alasan kuatku tuk tuk segera risend.
Semua
tidak ada yang kebetulan semua ada campur tangan Allah. Tak mengerti kenapa DIA
berikan aku cobaan fisik dan batin. fisik dengan sebuah penyakit dan batinku
memikirkan dengan perasaan tak karuan seperti ini. Apakah ini cinta?
*
*
Satu tahun sudah waktu berjalan semenjak aku risend dari tempat kerja. Aktivitasku hanya fokus kuliah dan mengajar Les Komputer disebuah lembaga swasta.

Tidak ada komentar:
Posting Komentar