Fiksi, Ngayal Tapi ggak Ngasal
"Ngapain nulis fiksi tukang ngayal"
Wajar kalau ada sebagian orang yang berbicara seperti itu. Aku juga dulu seperti itu tapi itu dulu sebelum kenal dunia fiksi. Lain dulu lain sekarang. Ya. Sekarang aku lagi proses belajar sejengkal demi sejengkal, belajar di kelas ngaji literasi#2 bersama cikgu Mb Alga Biru dan Ustad Syaf Muhamad Isa.
Fiksi bukan sekedar ngayal loh! Ngayal bahasa bekennya berimajinasi. Ngayal juga ada ilmunya. Diantaranya harus ada riset. Nah riset ini bukan sembarang riset. Gagal diriset bisa barabe urusannya.
"So, ngayal nggak ngasal ya. Semua ada ilmunya jadi tulisan fiksi bisa dipertanggung jawabkan". @YuyunH2I
Seperti cerita yang aku buat, itu perlu ngayal alias berimajinasi. Seperti apa ya kisahnya yuk kita simak dulu blurpnya.
//Pelangi kehidupan//
Laila berusia 6 tahun dan Laili berusia 5 tahun kakak beradik hidup bahagia didaerah pegunungan tapi kebagian itu telah direnggut oleh pilihan kedua orang tuanya yang memutuskan untuk berpisah (cerai). Merekapun dipisahkan Laila menjadi pilihan Ibunya untuk hidup bersamanya sedangkan Laili dipilih oleh Syam sang bapak.
Merekapun menjalani hidupnya masing-masing, satu tahun berlalu bukannya kebahagian yang diraih Laila dan Laili tapi mereka merasakan kehilangan, kesepian dan rindu yang teramat sangat. Laili jatuh sakit peristiwa itulah yang bisa menyatukan kakak beradik tersebut walupun Syam harus mengingkari janji kepada Ida ibu dari kakak beradik tersebut untuk tidak meminta Laila hidup bersamanya.
Mereka pun beranjak remaja, justru disitulah berawal komplik batin Laili karena ibu dan bapaknya saling memendam benci masa lalunya. Tapi Syam telah mampu membuktikan bahwa dia bisa membesarkan dan menyekolahkan mereka walaupun Syam dibantu oleh Ibunya.
Laila ketika SMP memilih tinggal bersama ibunya kembali. Laili tetep bersama bapak dan neneknya sampa kuliah.
Laili pun menikah saat masih kuliah semester terakhir tapi pernikahannya membawa hikmah berawal dari menikahlah keterbukaan anak dan orang tua mulai tercipta karena suami Laili yang sering jadi perantara kedekatan mereka.
Laili ikut bersama sang suami kini Syam merasakan kehilangan 2 anaknya seperti dulu Ida merasakannya. Semenjak itu Syam sering berkunjung ke rumah Laila maupun Laili. Dan menentukan pilihan untuk tinggal bersama Laili.
Baru seminggu tinggal bersama Laili Syam sakit dan minta dirawat di sini. Seminggu iulah Laili mengurus Syam sampai akhirnya Syam meninggalkan Laili tuk selamanya.
Part #01
Sunyi senyap kedua mata kecil itu baru saja terlelap. Laili masih diselimuti
rasa ngantuk yang berat karena seharian bermain di sawah dan mandi di sungai
yang penuh dengan bebatuan besar dan kecil. Mereka menyebutnya cadas.
Tubuh kecilnya kini berpindah tempat berada dalam gendongan Syam
sedangkan laila tak merasa terusik. Terlelap.
Berdiri mematung Ida hanya bisa menangis, memaksa untuk
tidak membawa laili malam-malam. Syam tak menghiraukan permintaan Ida
"Maf andaiku bawa semua juga, aku bisa merawat mereka
tapi ku tak mau kau kesepian. Jadi Laili ikut denganku”.
“Kalau kau kasian bekali Laili baju-bajunya, tapi tak
usahlah ku minta samping untuk menggendong Laili saja”. Kain bermotif
bunga-bunga yang warnanya sudah pudar mengingatkan Syam ketika Laili bayi. Digendongnya laili dan diselimuti jaket kain abu-abu.
Ida tak sempat mengkemasi baju-baju Laili. Meminta tuk tidak
dibawapun tak bisa dihindari. Hanya diam mematung, butiran bening itu mengalir
melihat laili digendong Syam sampai sosok itu hilang ditengah malam.
.
.
.
.
“Ibu..ibu..Laili gak ada?” teriak Laila
Berlari tergopoh-gopoh menuju dapur, kamar tidur, kamar
mandi tapi tak ditemukannya, biasanya ibu jam segini pasti ada didapur. Entah
kenapa sosok ibunya tak ditemukan dimana pun.
“Apa Laili dan ibu berangkat kepasar? Atau pergi duluan ke
sawah?. Ah gak mungkin mereka pergi sepagi ini”.
Udara menyelusuri dadanya yang kembang kempis menghirup
sejuknya udara, suara kokok ayam saling bersahutan. Tapi pikiran dan hatinya tertuju
pada sosok perempuan. Ya ibunya. Menyelusuri rumah neneknya.
" Dari mulai punya Laila emang seperti itu kelakuan
Syamsul, dia pasti punya perempuan lain. Suara nenek menghentikan langkah Laila, terdengar dari samping rumah.
“Udah gak sayang sama kamu dan anak-anak. Kalau masih sayang
ngapain dia bawa laili malam-malam. Udah ngapain dipertahankan yang ada kamu
sering sakit hati”.
“Rumah tangga seperti
itu gak usah dipertahankan”. Suara dari pamannya. Ya, Adik kandung dari ibu.
"Apa Laili dibawa bapak? Kenapa aku tak tahu, begitu nyenyak
kah aku tidur? Bisiknya dalam hati.
Laila berlari menuju rumah, ia buka lemari baju susunannya
masih rapi tidak ada tanda-tanda pakaian itu hilang.
“Ah.. Sedikit terlintas pasti pergi hanya sebentar buktinya
baju-bajunya masih tersimpan di sini”.
.
.
.
.
Semenjak Laili pergi Laila lebih sering diam, tak berselera ikut
ibu ke sawah atau mandi di cadas, terkadang menangis.
“Bu… sampai kapan Laili pergi? Sudah seminggu.
Tangan ibu masih sibuk memasukan kayu bakar ke dalam tungku
api. Ruangan yang pekat hitam, disekeililing tembok bilik yang terbuat dari anyaman bambu itu hitam oleh asap tungku.
Tangannya sesaat terhenti Laili tidak akan bersama lagi
selamanya dengan kita. Genggaman kayu itu merekat kencang ditangan ibu dan
memasukannya ke dalam tungku. Seakan-akan memasukan kekesalannya kedalam api yang
panas berharap rasa kecewa, sakit hatinya terbawa oleh asap pekat itu.
Semenjak itu laila tidak bersemangat lagi pergi ke sawah
untuk sekedar mencari keong atau mandi di Cadas yang penuh dengan bebatuan.
Laila lebih memilih di rumah lebih banyak melamun, selera
makannya pun mulai hilang.
1 tahun mereka dipisahkan oleh pilihan dari orang tua mereka. Tubuh Laila pun semakin kurus, tatapan matanya kosong. Seperti nyimpan rindu yang sangat dalam.
1 tahun mereka dipisahkan oleh pilihan dari orang tua mereka. Tubuh Laila pun semakin kurus, tatapan matanya kosong. Seperti nyimpan rindu yang sangat dalam.
.
.
Emak sebutan untuk sang Nenek, Laili merengek meminta Laila
tinggal bersamanya. Setiap kali disuruh
makan selalu tak mau. Harus ektra meloby, bukan emak namanya kalau emak tak bisa mengambil hati cucunya. Selalu punya jurus jitu lewat ucapannya yang lembut, seakan-akan
telah menyihirnya. Ya. Emak yang telaten dan sabar. Akhirnya luluh juga Laili.
Setahun Laila dan Laili tak bersama. Laili sudah menganggap emak seperti ibu kandungnya.
Setahun Laila dan Laili tak bersama. Laili sudah menganggap emak seperti ibu kandungnya.
“Teteh... kita nyari keong yuk? Abis itu kita mandi di
cadas”.
Sudah 2 hari ini Laila mengigau
Kadang berteriak, menangis, tertawa, merintih.
"Nak... Emak tahu kau pasti rindu sama sodaramu."
Emak membatin sambil mengompres keningnya.
“Seperti ini jalan hidup yang harus kau pikul atas pilihan
orang tuamu dan ini sudah Allah gariskan untukmu". Semoga kelak ketika kau
dewasa kau akan bisa mengambil hikmah ini.
Pelangi itu akan muncul ketika hujan turun. Semoga hujan ini menandakan besok pelangi akan menyapa kita. Menyapa kehidupanmu Laili. Bisik hati dari sang Nenek.
Pelangi itu akan muncul ketika hujan turun. Semoga hujan ini menandakan besok pelangi akan menyapa kita. Menyapa kehidupanmu Laili. Bisik hati dari sang Nenek.
Di luar cuaca sangat dingin menusuk tulang desa kecil mereka
diguyur hujan dari pagi sampai dini hari.
Kemana bapakmu jam segini belum pulang. Rasa kwatir
menyelinap dalam hati.
Pagi jam 04.00.
“Asalamualaikum mak"
Terdengar suara pintu di ketok-ketok. Di luar suara gerimis
masih menurunkan rintikannya. Memecah keheningan sujud emak dalam malamnya.
“Walaikumsalam. Syam, ya Allah kemana jas hujanmu?”
Ketinggalan di pull mak. Syam adalah supir angkutan umum
pekerjaan barunya setelah dia bekerja sebagai pedagang, ya pedagang bakso.
Syam pun menuju kedalam.
" Teh anget bisa menghangatkan tubuhmu hayu minum dulu. Di teguknya teh tersebut.
" Teh anget bisa menghangatkan tubuhmu hayu minum dulu. Di teguknya teh tersebut.
“Mak Laili baik2 saja kan?”Syam seperti merasakan pirasat.
“Teteh... teriak Laili didalan kamar. Emak dan syam
berlarian
“Ya Allah emak, badannya semakin panas”
“Sudah 2 hari syam, sudah dikasih obat penurun panas tapi belum
turun-turun.
Syam... bawa Laila kesini Laili rindu kakaknya, dia kesepian.
Syam kau sudah memilih jalan ini, kau pun harus mampu melaluinya. Jangan kau pisahkan mereka cukup kau dan Ida saja yang berpisah”.
Syam... bawa Laila kesini Laili rindu kakaknya, dia kesepian.
Syam kau sudah memilih jalan ini, kau pun harus mampu melaluinya. Jangan kau pisahkan mereka cukup kau dan Ida saja yang berpisah”.
Syam tertunduk mencium kening Laili, butiran air mata syam
tak terbendung. Suasana hening.
“Laili bapak janji, bp akan bawa kakakmu ke sini. Bapak gak akan
sanggup memisahkan kalian. Maafkan bapak nak”.
Adzan subuh berkumandang memnggil umat-Nya tuk menghampiri
titah-Nya. Syam larut dalam sujudnya mengadah memohon kebahagian dalam hidup anaknya.
“Emak, Syam berangkat dulu tuk menjemput Laila! doakan syam”.
“Syam entah kata apa yang bisa emak katakan. Pasti Ida akan
kehilangan anaknya lagi. Sakit hatinya karena buah hati yang pernah dikandung,
dilahirkan dan disusuinya, kau minta semua. Emakmu ini perempuan merakan pasti hancurnya hati
dia. Tapi seorang ibu akan bisa menahan sakit piludi hatinya dari pada
anaknya tak bahagia.”
“Syam... doa emak yang terbaik untuk mu. Semoga Allah
merahmatimu aamiin
Emak melepas syam dengan mata yang berkaca-kaca. Di luar
udara begitu dingin. Syam pun pergi ditelan gerimis.
Bersambung
Bersambung

Tidak ada komentar:
Posting Komentar