Rabu, 08 Agustus 2018

Madrasah Tanpa Atap

2 comments





Foto diambil tahun ajaran 2017, di foto baru sebagian anak-anak saja


Oleh: YuyunH2I
"Aa, ba, ta, tsa suara anak pra TPQ ( Taman pendidikan Quran), setingkat kelas 1 dan 2 SD yang sedang kusimak bacaannya. Beriringan dengan suara riuh anak-anak yang sedang menunggu giliran.
Suasana rumah yang kusulap jadi madrasah. Hanya bermodalkan teras depan rumah yang sengaja tak ada kursi tamu, meja bahkan vas bunga. Hanya berdiri tegak papan tulis besar yang menghiasi teras depan. Kalau anak-anak hadir semua terkadang teras depan tak bisa menampung, kondisinya meluber maka sebagian mereka masuk ke dalam rumah.
Alhamdulillah desain rumah sengaja oleh suami dikosongkan dari hiasan benda-benda pecah. Rumah yang berukuran 5m x 12m dengan dua ruang kamar tidur dan kamar mandi berderetan. Hanya tirai gordeng sebagai pembatas ruang depan,  kalau tirai gordeng itu di geser terlilatlah dapurku.
Akupun harus pinter mengkondisikan kelas. Papan tulis yang berukuran besar sengaja kubagi menjadi dua bagian, masing-masing 120cm x 120cm. Satu bagian untuk kelas 1 dan 2 DTA atau (setingkat kelas 3 dan 4 SD) dan satu bagian lagi untuk kelas 3 dan 4 DTA (setingkat kelas 5 dan 6 SD) dan beberapa meja lipat yang kupakai sebagai alas menyimak anak-anak ngaji.
Tak ada meja tak ada kursi hanya beralaskan keramik sebagai pengganti meja. Hanya gerakan kepala menunduk- mengadah bolak balik karna posisi duduk yang tidak sejajar dengan papan tulis. Betapa pegelnya mereka harus seperti itu. Melihatnya, hati sering nyesek belum bisa memberikan ruang belajar yang layak. Ada anak nulis sambil tengkurep ada juga yang beralaskan paha sebagai pengganti meja. Memang mereka tidak pernah ngeluh atau protes dengan fasilitas belajar yang seperti itu. Kalau sudah pada ribut sempit, aku hanya bisa bilang “ayo duduknya di rapihkan dulu, berbagi !”.

Hadirnya DTA tersebut untuk menyempurnakan pendidikan agama di sekolah umum (SD). Karena keterbatasan waktu hanya bisa dua jam perminggunya, sedangkan ilmu agama itu luas. Di bawah Kementrian Agama maka DTA bisa memberikan pendidikan agama yang kurang tersebut. Bukan itu saja Ketika anak akan melanjutkan ke pendidikan selanjutnya (SMP) menjadi salah satu syaratnya harus memiliki ijazah DTA. Karna dengan Penyempurnaan melalui DTA ini sesuai Perda No 24/2009 tentang wajar dikdas Diniyyah Takmiliyyah Awaliyah sekolah non formal.

Sudah menjadi keharusan bagi orangtua ketika putra putrinya akan melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi (SMP). 
🍀🍀🍀🍀🍀
25 lebih orang santri dengan berbeda-beda kelas cukup menguras pikiran karna aku harus menyiapkan materi yang berbeda-beda dalam satu waktu. Biasanya yang kulakukan sebelum jam mengajar mulai, materi sudah kutuliskan diawal di papan tulis yang tersedia. Jadi tepat pukul 16.00 wib jadwal anak-anak datang dan masuk, diawali dengan baca doa belajar dll, baru mereka mulai menulis apa yang sudah tertera dipapan tulis. 
Tak hanya itu akupun harus pintar mengefektipkan waktu sambil anak-anak ngantri baca yang sudah selesai nulis. Kuperiksa buku catatan solat hariannya sambil menyimak anak yang sedang baca, kalau menemukan catatan solat yang kosong langsung kutegur apalagi belum solat ashar, lansung kusuruh solat seketika itu juga. Selesai ngantri baca dilanjutkan hapalan surat-surat pendek, dan itu biasanya dua ayat perhari. 
Terkadang menguras emosi suka bergerutu di dalam hati, "katanya anak ingin jadi anak soleh tapi enggak pernah memantau solatnya", ketahuan saja di buku catatan solat hariannya karena di situ ada paraf orang tua. Buku solat itu hanya sebagai sarana saja supaya anak terbiasa solat dari sejak dini. Tata tertib lainnya yang sudah disepakati bersama dan sengaja kuminta mereka menandatanganinya. Artinya ketika mereka melanggar siap dengan sangsi yang sudah ditentukan.
🍀🍀🍀🍀🍀
“Bu anak saya ngajinya sama ibu saja ya?
 "emang kenapa enggak di sana saja, kan banyak temennya?" Tempat anak-anak khusus yang TPQ.
 "enggak mau, katanya pingin bareng kakaknya"
Kalau sudah ada wali murid yang meminta, berat hati ini rasanya untuk menolak. Akhirnya akupun mengiyakan. Walaupun kusampaikan dengan kondisi tempat yang seperti ini. Sempit.
Kadang akupun suka keteteran pingin rasanya ditemani rekan dalam mengajar, “Ah.. siapa yang mau ngajar ngaji dengan gaji kecil, yang bisa diajak berjuang mengsyiarkan dakwah lewat pendidikan tanpa menuntut materi lebih. Pikiran itu selalu bergelayut dalam benak memikirkan sosok itu. Entah siapa.
🍀🍀🍀🍀🍀
Biarlah Allah yang menggaji dengan pahala-Nya. Merasa diri ini tak bisa berbuat apa-apa untuk agama ini. Harta tak punya untuk diinfakkan. Hanya ilmu yang bisa kuberikan untuk agama ini, semoga Allah mencatatnya sebagai sodaqohku, Aamiin
Jadi teringat satu tahun lalu ibu kepala sekolah menawariku untuk ngajar.
"Bantuin ngajar mau gak? ngajar ngaji santai ko, enggak kaya sekolah formal, enggak apa-apa sambil bawa anak juga"”
“yang DTA saja, Kitakan nginduk, jadi enggak perlu ada ruangan khusus belajar, di rumah juga bisa. Terasn rumahnya kan luas. Bisa dipakai"
“Ibu kasian saja anak-anak banyak tapi enggak ada gurunya, ibu sendiri enggak kepegang”
Apa karna guru ngaji gajinya kecil jadi orang-orang pada enggak mau.? Ah.. saya malu kalau bilang gaji. Saya cuman bisa ngasih uang buat beli garam saja ya, kalau gaji biar Allah yang bayar.”
“nanti ya bu, belum bisa jawab sekarang aku mau izin suami dulu.
🍀🍀🍀🍀
Setelah dapet restu suami, akhirnya kuterima tawaran beliau. Dengan syarat tempat ngajarnya di rumah. Alhamdulillah keuntungan ngajar di rumah anakku bisa tetep main. Sering kudapati anakku hapal doa-doa mungkin karena sering mendengar dari anak-anak yang ngaji walaupun sambal bermain.
🍀🍀🍀🍀🍀
Dengan izin suami alhamdulillah setahun sudah aku ngajar DTA. Kata-kata yang selalu kuingat dari ibu kepala sekolah “Biar Allah yang "menggajinya”. Kalau pingin kaya jangan dengan hasil ngajar atau jadi guru, tapi jadi wirausaha. Kalau semua karena Allah mencari investasi akhirat mudah-mudahan ini salah satu jalan menuju sana. Aamiin.
🍀🍀🍀🍀
Tiap bulan beliau selalu menunaikan kewajibannya dengan istilah beliau" buat beli garam" atau buat jajan anak, “gajinya nanti ya, di akhirat”. Kalau semua dinilai oleh materi apa artinya uang materi dibawa ke warung saja lenyap tak bersisa.
🍀🍀🍀🍀
“Bi, rumah sebelah kosong beli saja yuk sama kita!” 
“Boleh, coba umi tanya-tanya sama bu RT!”
“Ya, nanti ditanyain, emang kita punya uang bi?”
“enggak"
“Terus ngapain abi nyuruh umi nanyain, kalau misal dijual juga kalau kita enggak punya uang percuma. bikin malu."
"Enggak ada salahnya orang cuman nanya, urusan punya uang atau enggak itu urusan lain, Allah punya cara yang enggak pernah kita duga.”
“Ya, juga ya bi?”
“Kalau rumah itu rizki kita, rizki anak-anak ngaji Allah pasti mudahkan pasti ada jalan keluarnya”
Akhirnya kuberanikan juga tanya-tanya. Walaupun jawabannya tidak sesuai yang diharapkan. pemilik rumah belum mau menjualnya. Padahal sudah kusampaikan, rumah itu buat di jadikan tempat ngaji. Sayang saja dari pada kosong.
Akupun ngewanti-wanti  bu RT, kalau rumah itu mau dijual aku orang yang pertama kali ditawarin .
Walaupun kita enggak punya uang. “Ah.. itu mah urusan nanti Kitakan punya Allah. Yakin.
Tapi  kepikiran juga uang dari mana kalau hanya mengandalkan gaji suami, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil kami. Ah.. ku tepis kata-kata itu, kalau Allah sudah berkehendak enggak ada yang enggak mungkin.
Mungkin Allah masih mencukupkan untuk saat ini rumah saya djadikan sebagai ruang belajar. Allah yang punya hati manusia yang bisa membolak balikannya,  Allah yang punya segalanya. Kini aku hanya bisa ikhtiar lewat doa semoga pemilik rumah hatinya dilembutkan. Aamiin.
🍀🍀🍀🍀🍀
Dalam setiap sujud kuselipkan doa itu semoga Allah mengabulkan harapan kami dan anak-anak yang ingin punya ruangan kelas Aamiin..

2 komentar:

  1. Assalamu 'alaykum, Mba.. tulisannya bagus.. sangat menginspirasi..

    DTA itu khusus untuk mengaji saja ya? Atau para santrinya ini sekolah diluar juga?

    BalasHapus
    Balasan
    1. Alhamdulilah jazakillahnya mb.

      DTA itu kaya sekolah agama,anak-anaknya sekolah formal SD.

      Hapus