Kamis, 21 November 2019
Cinta Ibu Selalu ada Walaupun Tak Membersamai
Tak banyak kenangan aku bersamanya karena takdir membuat kita tak bersama. Aku pun harus menerima konsekuensi dari pilihan orang tuaku. Mereka Bercerai.
Mulai usia dua tahun kutak bersama Ibu, aku menjadi anak pilihan Bapak yang ikut dengannya. Nggak semua celah itu dimaksudkan untuk menguak aib, perih sakitnya aku sebagai anak broken home. Apalagi tuk menyesali apa yang sudah Allah tetapkan untukku. Tidak.
Karena setiap luka Allah sudah siapkan penawarnya. Begitupun kisahku dengan seorang perempuan yang telah melahirkanku, Ibu.
.
.
.
Ibu... hatimu pasti perih ketika mulut mungilku terlontar kata "kau bukan ibuku".ðŸ˜ðŸ˜ kata yang menusuk kalbumu dari kepolosan sikapku, aku menjauh, tak mau mendekatimu. Dengan sikap keibuanmu kau pun membujuk, merayuku, merangkul dan berbisik "nak aku ini ibumu, yang telah melahirkanmu, Maafkan ibu nak". Kau pun memaklumi sikapku karena kita berpisah cukup lama.
Ini pernah kau sampikan kepadaku ketika aku sudah baligh. Maafkan aku ibu. Karena aku tak dalam pengasuhanmu, aku yang kecil berkata seperti itu.
Ibu... walaupun kau tak merawatku, tapi kasih cintamu masih aku rasakan walaupun anakmu tak hanya aku. Masih ingat sekali ketika kau datang menemuiku, kau pun menjalankan kewajibanmu sebagai seorang ibu. Dengan cekatan kau memandikan, memakaikan baju dan kau sisir rambutku. waktu itu usiaku 4 atau 5 tahunan.
.
.
.
Setiap libur sekolah pasti aku selalu berkunjung kerumah ibu, menghabiskan liburan sekolah bersamanya. Mungkin inilah cara Allah mendekatkan aku dengannya menumbuhkan rasa cinta dan kasih sayang.
Setiap berkunjung ke rumahmu kau selalu mengajakku solat berjamaah, mengiatkan akan pentingnya menjalankan kewajiban itu dan jangan pernah meninggalkannya. Walaupun solat berjamaah itu kurasakan hanya sebentar.
.
.
.
Waktu terus berputar, kebiasaan menghabiskan liburan sekolah mulai dari SD, SMP, SMK dan kuliah selalu menjadi pilihan tuk datang ke rumah ibu. Cintamu memang tak berucap tapi dapatku rasakan dari isarat tubuhmu.
Waktu itu liburan sekolah telah habis, artinya aku harus bersiap berpisah dengannya. Seperti kebiasaan ibu kalau aku mau pulang pasti segala sesuatunya sudah ibu siapkan apa saja yang bisa aku bawa pulang. Mulai dari ngasih alat tulis, beras, bahan makanan mentah seperti opak dan ranginang mentah. Kalau lagi panen sayur mayur seperti kacang panjang, cabe, buah-buahan seperi mangga, pisang dll pasti jadi bahan oleh-olehku termasuk juga uang.
Ibu seorang anak dari seorang petani, sudah jadi kebiasaannya berkebun. Menanam apa saja yang bisa dimanfaatkan tuk sendiri maupun tuk dijual.
.
.
Pernah suatu waktu ibu tak memiliki uang,
Ibu bilang mau pinjem dulu ke tetanga supaya aku bisa pulang. Masih tersimpan dalam ingatan waktu itu bada Shubuh ibu keluar rumah tuk mencari pinjaman dengan membawa bungkusan plastik hitam.
"Ibu... apa itu?"
"Ini beras, mau ibu tuker sama uang, buat nambahin ongkos kamu pulang", jaga-jaga kalau gak dikasih pinjeman. Ibu mau menjual beras ini.
Deg... hatiku remuk melihat sikap sayang ibu kepadakuðŸ˜. Begitulah cara beliau menunjukan cintanya. Tak banyak bicara cukup isarat tubuhnya yang menunjukan begitu cinta dan sayangnya kepadaku.
Kau memang tak bisa memberikan cintamu setiap detik kepadaku tapi lebih dari cukup kau berusaha bersikap adil kepada anak-anakmu.
Kau memang tak menyaksikan aku tumbuh dan berkembang setiap saat karena keadaan yang tak bisa menyatukan tapi cinta dan doamu selalu menyertai.
Kau... ibuku tapi bukan hanya milikku, aku anakmu tapi bukan hanya aku anakmu. Ibu... terima kasih kau telah mengandung dan melahirkanku dan menyusuiku walaupun kau tak membersamaiku.
Maafkan sikap aku yang "kecil" yang telah menyakiti hatimu. Aku akan tetep meminta doamu walaupun doamu tak hanya tuk ku.
Aku tetep bangga menjadi anakmu dan aku menyanyangimu dan mencintaimu ibu.
Maafkan aku yang belum bisa membalas semua pengorbananmu. Ibu tak apa kita di dunia tak bersama, berharap semoga kita di Syurga Allah kumpulkan Aamiin.
Karawang, 28 November 2019

Wah.. Bikin nangis baca kisahnya.. Masya Allah. Tabarakallah
BalasHapusNuhun tthku udah mampir.
Hapus