"Aa,
ba, ta, tsa suara anak pra TPQ ( Taman pendidikan Quran), setingkat kelas 1 dan
2 SD yang sedang kusimak bacaannya. Beriringan dengan suara riuh anak-anak yang
sedang menunggu giliran.
Suasana
rumah yang kusulap jadi madrasah. Hanya bermodalkan teras depan rumah yang
sengaja tak ada kursi tamu, meja bahkan vas bunga. Hanya berdiri tegak papan
tulis besar yang menghiasi teras depan. Kalau anak-anak hadir semua terkadang
teras depan tak bisa menampung, kondisinya meluber maka sebagian mereka masuk
ke dalam rumah.
Alhamdulillah
desain rumah sengaja oleh suami dikosongkan dari hiasan benda-benda pecah.
Rumah yang berukuran 5m x 12m dengan dua ruang kamar tidur dan kamar mandi
berderetan. Hanya tirai gordeng sebagai pembatas ruang depan, kalau tirai gordeng itu di geser terlilatlah
dapurku.
Akupun
harus pinter mengkondisikan kelas. Papan tulis yang berukuran besar sengaja
kubagi menjadi dua bagian, masing-masing 120cm x 120cm. Satu bagian untuk kelas
1 dan 2 DTA atau (setingkat kelas 3 dan 4 SD) dan satu bagian lagi untuk kelas
3 dan 4 DTA (setingkat kelas 5 dan 6 SD) dan beberapa meja lipat yang kupakai
sebagai alas menyimak anak-anak ngaji.
Tak
ada meja tak ada kursi hanya beralaskan keramik sebagai pengganti meja. Hanya
gerakan kepala menunduk- mengadah bolak balik karna posisi duduk yang tidak
sejajar dengan papan tulis. Betapa pegelnya mereka harus seperti itu.
Melihatnya, hati sering nyesek belum bisa memberikan ruang belajar yang layak.
Ada anak nulis sambil tengkurep ada juga yang beralaskan paha sebagai pengganti
meja. Memang mereka tidak pernah ngeluh atau protes dengan fasilitas belajar
yang seperti itu. Kalau
sudah pada ribut sempit, aku hanya bisa bilang “ayo duduknya di rapihkan dulu,
berbagi !”.
Hadirnya
DTA tersebut untuk menyempurnakan pendidikan agama di sekolah umum (SD). Karena
keterbatasan waktu hanya bisa dua jam perminggunya, sedangkan ilmu agama itu
luas. Di bawah Kementrian Agama maka DTA bisa memberikan pendidikan agama yang
kurang tersebut. Bukan itu saja Ketika
anak akan melanjutkan ke pendidikan selanjutnya (SMP) menjadi salah satu
syaratnya harus memiliki ijazah DTA. Karna dengan Penyempurnaan melalui DTA ini
sesuai Perda No 24/2009 tentang wajar dikdas Diniyyah Takmiliyyah Awaliyah
sekolah non formal.
Sudah menjadi keharusan bagi orangtua ketika putra putrinya akan melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi (SMP).
Sudah menjadi keharusan bagi orangtua ketika putra putrinya akan melanjutkan pendidikan ke tingkat lebih tinggi (SMP).
🍀🍀🍀🍀🍀
25 lebih
orang santri dengan berbeda-beda kelas cukup menguras pikiran karna aku harus
menyiapkan materi yang berbeda-beda dalam satu waktu. Biasanya yang kulakukan
sebelum jam mengajar mulai, materi sudah kutuliskan diawal di papan tulis yang
tersedia. Jadi tepat pukul 16.00 wib jadwal anak-anak datang dan masuk, diawali
dengan baca doa belajar dll, baru mereka mulai menulis apa yang sudah tertera
dipapan tulis.
Tak
hanya itu akupun harus pintar mengefektipkan waktu sambil anak-anak ngantri
baca yang sudah selesai nulis. Kuperiksa buku catatan solat hariannya sambil
menyimak anak yang sedang baca, kalau menemukan catatan solat yang kosong
langsung kutegur apalagi belum solat ashar, lansung kusuruh solat seketika itu
juga. Selesai ngantri baca dilanjutkan hapalan surat-surat pendek, dan itu biasanya
dua ayat perhari.
Terkadang
menguras emosi suka bergerutu di dalam hati, "katanya anak ingin jadi anak soleh
tapi enggak pernah memantau solatnya", ketahuan saja di buku catatan solat
hariannya karena di situ ada paraf orang tua. Buku
solat itu hanya sebagai sarana saja supaya anak terbiasa solat dari sejak dini.
Tata tertib lainnya yang sudah disepakati bersama dan sengaja kuminta mereka
menandatanganinya. Artinya ketika mereka melanggar siap dengan sangsi yang
sudah ditentukan.
🍀🍀🍀🍀🍀
“Bu
anak saya ngajinya sama ibu saja ya?
"emang kenapa enggak di sana saja, kan
banyak temennya?" Tempat anak-anak khusus yang TPQ.
"enggak mau, katanya pingin bareng
kakaknya"
Kalau
sudah ada wali murid yang meminta, berat hati ini rasanya untuk menolak.
Akhirnya akupun mengiyakan. Walaupun kusampaikan dengan kondisi tempat yang
seperti ini. Sempit.
Kadang
akupun suka keteteran pingin rasanya ditemani rekan dalam mengajar, “Ah.. siapa
yang mau ngajar ngaji dengan gaji kecil, yang bisa diajak berjuang mengsyiarkan
dakwah lewat pendidikan tanpa menuntut materi lebih. Pikiran itu selalu
bergelayut dalam benak memikirkan sosok itu. Entah siapa.
🍀🍀🍀🍀🍀
Biarlah
Allah yang menggaji dengan pahala-Nya. Merasa diri ini tak bisa berbuat apa-apa
untuk agama ini. Harta tak punya untuk diinfakkan. Hanya ilmu yang bisa kuberikan
untuk agama ini, semoga Allah mencatatnya sebagai sodaqohku, Aamiin
Jadi
teringat satu tahun lalu ibu kepala sekolah menawariku untuk ngajar.
"Bantuin
ngajar mau gak? ngajar ngaji santai ko, enggak kaya sekolah formal, enggak
apa-apa sambil bawa anak juga"”
“yang
DTA saja, Kitakan nginduk, jadi enggak perlu ada ruangan khusus belajar, di
rumah juga bisa. Terasn rumahnya kan luas. Bisa dipakai"
“Ibu
kasian saja anak-anak banyak tapi enggak ada gurunya, ibu sendiri enggak
kepegang”
Apa
karna guru ngaji gajinya kecil jadi orang-orang pada enggak mau.? Ah.. saya
malu kalau bilang gaji. Saya cuman bisa ngasih uang buat beli garam saja ya, kalau
gaji biar Allah yang bayar.”
“nanti
ya bu, belum bisa jawab sekarang aku mau izin suami dulu.
🍀🍀🍀🍀
Setelah
dapet restu suami, akhirnya kuterima tawaran beliau. Dengan syarat tempat ngajarnya
di rumah. Alhamdulillah keuntungan ngajar di rumah anakku bisa tetep main.
Sering kudapati anakku hapal doa-doa mungkin karena sering mendengar dari
anak-anak yang ngaji walaupun sambal bermain.
🍀🍀🍀🍀🍀
Dengan
izin suami alhamdulillah setahun sudah aku ngajar DTA. Kata-kata yang selalu
kuingat dari ibu kepala sekolah “Biar Allah yang "menggajinya”. Kalau pingin
kaya jangan dengan hasil ngajar atau jadi guru, tapi jadi wirausaha. Kalau
semua karena Allah mencari investasi akhirat mudah-mudahan ini salah satu jalan
menuju sana. Aamiin.
🍀🍀🍀🍀
Tiap
bulan beliau selalu menunaikan kewajibannya dengan istilah beliau" buat beli
garam" atau buat jajan anak, “gajinya nanti ya, di akhirat”. Kalau semua
dinilai oleh materi apa artinya uang materi dibawa ke warung saja lenyap
tak bersisa.
🍀🍀🍀🍀
“Bi,
rumah sebelah kosong beli saja yuk sama kita!”
“Boleh,
coba umi tanya-tanya sama bu RT!”
“Ya,
nanti ditanyain, emang kita punya uang bi?”
“enggak"
“Terus
ngapain abi nyuruh umi nanyain, kalau misal dijual juga kalau kita enggak punya
uang percuma. bikin malu."
"Enggak
ada salahnya orang cuman nanya, urusan punya uang atau enggak itu urusan lain,
Allah punya cara yang enggak pernah kita duga.”
“Ya,
juga ya bi?”
“Kalau
rumah itu rizki kita, rizki anak-anak ngaji Allah pasti mudahkan pasti ada
jalan keluarnya”
Akhirnya
kuberanikan juga tanya-tanya. Walaupun jawabannya tidak sesuai yang diharapkan.
pemilik rumah belum mau menjualnya. Padahal sudah kusampaikan, rumah itu buat
di jadikan tempat ngaji. Sayang saja dari pada kosong.
Akupun
ngewanti-wanti bu RT, kalau rumah itu
mau dijual aku orang yang pertama kali ditawarin .
Walaupun
kita enggak punya uang. “Ah.. itu mah urusan nanti Kitakan punya Allah. Yakin.
Tapi kepikiran juga uang dari mana kalau hanya
mengandalkan gaji suami, yang hanya cukup untuk memenuhi kebutuhan hidup keluarga kecil kami.
Ah.. ku tepis kata-kata itu, kalau Allah sudah berkehendak enggak ada yang
enggak mungkin.
Mungkin
Allah masih mencukupkan untuk saat ini rumah saya djadikan sebagai ruang
belajar. Allah yang punya hati manusia yang bisa membolak balikannya, Allah yang punya segalanya. Kini aku hanya
bisa ikhtiar lewat doa semoga pemilik rumah hatinya dilembutkan. Aamiin.
🍀🍀🍀🍀🍀
Dalam
setiap sujud kuselipkan doa itu semoga Allah mengabulkan harapan kami dan
anak-anak yang ingin punya ruangan kelas Aamiin..

Assalamu 'alaykum, Mba.. tulisannya bagus.. sangat menginspirasi..
BalasHapusDTA itu khusus untuk mengaji saja ya? Atau para santrinya ini sekolah diluar juga?
Alhamdulilah jazakillahnya mb.
HapusDTA itu kaya sekolah agama,anak-anaknya sekolah formal SD.